Bloglovin Google+ Facebook Twitter Image Map

17 June 2011

Sekotak Rindu Untuk Raditya Dika


Sudah lama sekali rasanya tidak melihat Raditya Dika di layar kaca. Kebanyakan aku lupa jadwal dia jadi pembicara. Tapi malam ini, berkat tweet dari @ProvocActive, aku tidak ketinggalan untuk menontonnya.

 Melihat Raditya Dika di layar kaca terasa agak berbeda. Aku lebih suka melihatnya secara langsung. Seperti saat dia menjadi bintang tamu di salah satu acara kampusku. Saat pembawa acara meminta kami, penonton, untuk meneriakkan namanya, aku hanya sanggup melafalkannya pelan. Telapak tanganku berkeringat. Jantungku berdebar keras sekali. Aku gelisah menantikan detik-detik kemunculannya. Sungguh, ini apa adanya, kawan. Memang itu yang aku rasakan.

Setelah dia muncul, aku menghela napas sambil tak sadar menyunggingkan senyum ke arahnya. Saat itu, aku duduk di baris kedua. Sayangnya, aku belum punya kamera digital, jadi, mau tidak mau aku harus puas merekamnya dengan hp-ku.

Selama dia berbicara, aku dan penonton lainnya tak sempat mengobrol sendiri. Kami dibuat terpikat dengan candaannya. Oya, dia sering sekali menatap ke arahku, ya, aku lebih suka menganggapnya begitu, sekalipun bukan aku yang ingin dia tatap. Hmm, merasa diperhatikan, aku jadi salah tingkah. Aku agak ragu untuk terus mengangkat tanganku demi merekam gerak-geriknya dengan kamera handphone. Aku takut ke-maniak-anku ini akan dia bahas di bukunya, kawan. Setahuku, memang cuma aku yang tak henti merekam, yang lain hanya mendengarkan dengan santai.

Akhirnya, sampailah pada sesi tanya-jawab. Banyak dari penonton yang berebut ingin bertanya. Tapi aku, yang sudah lama memendam kekaguman ini, malah diam saja. Aku hanya senyum-senyum sambil memandaninya lekat-lekat, kapan lagi bisa begini, batinku. Perlu aku tekankan, ketika orang yang kamu kagumi ada di depan mata, mengajak bicara itu sulit, tapi memandangi sepuasnya pasti itu yang kamu mau. Sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku ingin bertemu dengan dia secara langsung. Pertama, aku ingin mendengar suaranya. Setelah bertemu, ternyata apa yang aku dengar di TV sama persis dengan aslinya. Yang kedua, aku ingin mencium bau keringatnya. Ketika sesi foto, aku beruntung dapat posisi di sampingnya, ini kesempatan, batinku. Beberapa saat setelahnya, indera penciumanku mengatakan, tak ada bau keringat di sana. Aku gagal.

Seusai acara, aku masih saja mengawasi dia dari jauh. Dia dan beberapa orang yang tak kukenal, sedang berjalan menuju parkiran. Aku tahu, tak lama lagi dia akan pergi, kembali ke dunianya yang tak dapat aku jangkau. Aku tahu, sisa waktuku hanya tinggal beberapa saat lagi. Setelah ini, seperti biasa, aku harus puas menatap dia di layar TV. Hanya menatapnya, tanpa bisa merasakan lagi tatapan darinya. Kecewa mulai terasa ketika dia sudah masuk ke mobilnya. Bagaimana tidak, kaca mobil yang hitam pekat itu menghalangi mataku untuk memandangnya. Segera setelah itu, dia akan pergi. Aku memutuskan untuk mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tak sanggup melihat mobil putih itu melaju meninggalkan kampusku. Bila ini ftv, aku tentu akan berbalik sepersekian detik setelah mobil melaju, aku mengejarnya, meneriakkan namanya, tapi karena itu sia-sia pada akhirnya aku hanya akan menangis, sambil bicara lirih, jangan pergi. Tapi toh ini realita, aku tak berani melakukan itu. Aku tak mau jadi bahan pembicaraan di kampusku setelahnya. Jadi, saat itu, beberapa menit setelah itu, aku hanya bisa mendapati parkiran yang kosong. Mobil putih itu sudah tak terlihat lagi. Hanya dua jam aku bisa bertemu dengan dia.

Malam ini, aku melihatnya. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa melihat dia, mengamati lagi gerak-geriknya. Meski tubuhnya mengecil seukuran TV, aku suka. Hidungnya tetap kelihatan besar. Caranya tertawa masih sama, menarik bibirnya ke samping kuat-kuat, sampai pipinya tertekuk dan matanya menyipit. Aku suka.
Nggak tahu kenapa, metroTv nggak bisa jernih di TVku, TV kalian bagaimana?
Cara dia berbicara selalu meyakinkanku, dia cerdas. Aku suka sekali saat dia sedang membicarakan hal yang serius. Seperti melihat sisi lain dari dirinya.
Tampak samping. Tetap saja manis, bukan?
Ini yang tadi kumaksud. Menarik kuat-kuat bibirnya ke samping. Kalian lihat kan bentuk setengah lingkaran dari hidung menuju  mulut itu? Pipinya sudah semakin berisi sekarang :)

Maaf bila gambarnya kurang jelas. Aku hanya memotretnya dengan handphone. Kalian tahu, tanganku sampai pegal memegangi handphone setiap saat demi untuk memotret dia seadanya. Sungguh, lewat layar kaca pun aku tetap senang bukan kepalang. Semoga saja aku segera mendapat kesempatan untuk bertemu lagi dengan dia. Oya, kalau kalian mengenalnya, suruh dia mampir ke sini. Katakan, sekotak rindu ini aku buat dengan penuh cinta. Ingatkan dia agar istirahat cukup, agar kantung matanya itu tidak membesar. Tapi tolong, jangan katakan kalau aku menyukainya, biar dia membacanya sendiri, disini.

7 comments:

  1. haha.

    Aul gak pernah ketemu loh kak din.
    Tapi di twitter dia pernah ngebales tweet ku dua kali. konyol. haha

    Tapi sekarang dia udah jadi seleb beneran. Udah gak pernah bales mention aku lagi.

    Akhirnya aku ngefollow shitlicious poconggg sama benakribo deh. mereka gak kalah konyol soalnya. mana kompakan lagi. hehe.

    Kemaren bang dika baru dari padang loh kak.
    tapi gak singgah di rumah Aul :p

    ReplyDelete
  2. Ah iya iya, kan aku mantengin tweetnya dia :p

    ih enak banget, aku aja yang cinta setengah mati belom pernah :( huhu tissue paper please :'(

    eh agak aneh yaa aku kekeuh mau manggil abang, eh kamunya manggil kakak :D

    ReplyDelete
  3. aku juga suka sama raditya dika. sebatas suka si. semua buku raditya dika aku punya loh *pamer* haha tapi ada beberapa yang dipinjem temenku dan gak dikembaliin. huaaaaa :'(. hehe *curhat*

    ReplyDelete
  4. hahaha kesian bgt. aku juga dong haha punya yg MMJ doang sih yang laennya pinjem :p
    yang MMJ juga ga pernah aku pinjemin ke orang loooh *pelit yee?* haha biarin deh aaah, takut kusut haha secara ada ttd raditya dikanya :D

    ReplyDelete
  5. saya juga suka raditya dika .lucu tapi tetep bisa menginspirasi :)
    salam kenal ,like your blog :D

    ReplyDelete
  6. Hey sefira, salam keal juga yaah :)

    yup, menurut aku humornya dia itu nggak asal, humornya dia itu cerdas hehe

    ReplyDelete
  7. wah ngefans segitunya ya ?????
    kalo gw sih suka sama bukunya tapi pas tampil di tv kok kurang lawak ya

    eh

    flow back gw ya.......

    ReplyDelete

Hi, there. Thanks for stopping by ^^ Kalau mau komentar, jangan anonim, yah! :)