Bloglovin Google+ Facebook Twitter Image Map

13 September 2011

"Saya suka cover yang bagus!"


Barusan saya membaca koran Kompas terbitan hari ini. Saya bukan seorang pelanggan koran. Hari ini kebetulan saja ada mata kuliah yang mengharuskan saya membeli koran. Ketika sedang mencari-cari tajuk rencana yang saya butuhkan, pandangan mata saya terhenti pada sebuah kolom. Kolom tersebut berisi surat-surat dari pembaca yang dikirim ke redaksi Kompas. Berikut isi kolom yang saya maksud, perhatikan bagian yang saya bold.

Ketika Tukang Ojek Ada Urusan di Grapari Telkomsel.

Saya seorang tukang ojek yang pada 23 Juni lalu hendak mengganti kartu prabayar adik saya yang rusak di Grapari Telkomsel, Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Di sana saya bertemu dengan petugas layanan pelanggan, Saudari P. Katanya, permohonan penggantian tak bisa diproses karena harus ada surat kuasa dari adik saya. Sudah saya sebutkan data adik saya, tetapi saya tetap tak bisa dilayani.
Akhirnya saya pergi ke kantor adik saya dan minta dibuatkan surat kuasa. Ketika kembali ke Grapari itu, Saudari P sedang melayani pelanggan lain. Dengan posisi kursi tunggu cukup dekat, saya bisa mendengar dengan jernih bahwa pelanggan yang sedang dilayani berasalah sama dengan saya. Pelanggan itu minta kartu pengganti yang bukan atas namanya sendiri, melainkan atas nama adiknya.
Ketika diminta surat kuasa, dia mengatakan bahwa adiknya tak di Jakarta dan tak bisa mendapat surat kuasa. Yang terjadi, Saudari P hanya minta orang itu menyebutkan nomor kontak adiknya tanpa verifikasi dengan menelepon langsung. Orang itu memperoleh kartu pengganti!
Saya tukang ojek yang berpakaian lusuh lalu disuruh pulang melengkapi surat kuasa; sedangkan orang tadi berdasi, berkemeja licin rapi, dan permohonannya langsung diproses meski dokumennya tak lengkap. 

Surat tersebut dikirim oleh Bapak Solihin. Saya tidak kenal beliau. Saya juga tidak satu profesi. Tapi, saya ikut sakit hati setelah membaca isi surat tersebut. Bukan hanya saya. Beberapa menit yang lalu, saya mengirim sms pada ibu saya, memintanya untuk membaca juga surat tersebut (kebetulan ibu saya memang suka membaca Kompas). Jawaban ibu saya singkat, tapi menyengat, "Kurang ajar itu petugasnya!"

Saya ingat beberapa bulan yang lalu, ketika saya melihat seorang nenek duduk istirahat di depan rumah saya. Nenek itu berencana mengunjungi anaknya. Ia datang dari kampung, katanya. Saat itu, saya langsung teringat ibu saya. Membayangkan nanti ketika ibu saya telah setua nenek itu. Saya berjanji tidak akan membiarkan ibu bepergian jauh sendirian. Tidak lucu rasanya membiarkan orang yang mengajari kita berjalan hilang karena tak tahu ke mana harus berjalan. Hubungannya dengan kasus di surat pembaca tadi adalah saya lagi-lagi membayangkan kalau tukang ojek itu adalah bapak saya. Sakit rasanya.

Bapak adalah tipe orang yang tidak suka ribet. Tidak suka pakai ini-itu hanya untuk jalan-jalan. Kalau menemani saya ke mall, pakaiannya pun seadanya. Paling kaos yang dilapisi jaket bahan parasut, celana bahan, dan sandal rumah. Bahkan saat ke bank pun begitu. Kata bapak, yang penting punya uang, ya nggak akan diusir. Yah, haha begitulah bapak saya. Hanya saat acara formal saja saya bisa melihat bapak ganteng dengan kemejanya. Dengan keadaan begini, wajar kan kalau saya membayangkan tukang ojek itu bapak saya? Mereka berdua sama-sama 'tidak' dari segi penampilan.


Oya, saya jadi teringat kejadian kemarin, saat supir bus kuning di kampus menggerutu di depan teman saya. "UI bikin halte mahal, eh yang make anak PNJ.." begitu yang teman saya ceritakan. Begini ya, dia itu kan cuma supir bus. Paling gajinya berapa sih? Paling pendidikannya apa sih? Lulusan kampus mana sih doi? Lebih elit dari PNJkah? Tapi kok jadi supir ya? Wah.. Wah... Ternyata kalau kesal, kelakuan saya juga tidak ada bedanya, ya, dengan mbak petugas Grapari tadi. Saya mengecilkan bapak supir itu karena profesinya. Hmm, saya rasa setiap orang memiliki sifat buruk ini. Beda kadarnya saja.

Saat itu, dalam benak saya, meskipun bukan saya yang mengalami hal tersebut, yaa.. Saya ini mahasiswa juga. Jaket almamater saya kuning juga. Saya melaksanakan kewajiban saya membayar SPP, dan yang terpenting, seperti yang mahasiswa UI lakukan, saya juga selalu mengucapkan terima kasih kepada bapak supir sebelum turun dari bus. Lalu, apa yang salah dari saya? Kenapa seakan-akan mengangkut mahasiswa dari PNJ itu merugikan? Adakah salah satu dari kami yang mencorat-coret ruangan bus atau membuang sampah di dalamnya? Kalau tidak, lalu apa yang salah?

Tadi itu baru dalam benak saya. Yah, di benak bapak supir itu barangkali.... Saya ini supir. Saya digaji oleh UI. Ya.. Kayaknya sih itu dari SPP mahasiswa UI. Duh, tapi kok pas saya berhenti di halte PNJ banyak sekali yang naik ya? Wah, anak UI bisa berdesakkan nih. Pasti tidak nyaman. UI bikin halte mahal, eh yang make anak PNJ.. Loh, kok mbak yang di dekat saya melotot, ya? Mungkin karena saya kelepasan mengatakannya, ya? Tapi, apa saya salah? Saya kan hanya menyampaikan pendapat saya saja. Apa salah kalau supir yang bukan lulusan dari perguruan tinggi menyampaikan pendapatnya?

Nah, sudah ada dua gambaran. Saya sudah berusaha adil loh.. Saya tidak sedang mengistimewakan satu pihak. Saya sendiri juga sebenarnya bingung mau menyalahkan siapa dan membenarkan siapa. Yang saya salahkan belum tentu benar-benar jahat. Yang saya betulkan belum tentu benar-benar baik. Tidak percaya? Mau bukti? Oke, bagaimana bila mbak petugas tadi juga korban. Dia baru saja dimarahi atasan karena terlambat datang. Saat ditanya, jawabannya adalah karena ojek yang di stopnya tidak ada yang mau berhenti. Dan, di waktu yang sama, beberapa tukang ojek, termasuk Pak Solihin, melihat ada seorang wanita yang mencoba menyetop kendaraan mereka, tapi... Dilihat-lihat kok badannya besar sekali. Bagaimana jika nanti ban mereka kempes? Dan.. Aduh, make upnya itu kok belepotan, ya? Tampilan begitu pasti bau keringat. Wah, jangan-jangan tidak akan bayar juga. Akhirnya, tak satu pun dari mereka yang memutuskan untuk berhenti, mengangkut mbak Grapari tersebut. Yah... Ini hanya ilustrasi saja. Kejadiannya tidak mungkin sedramatis ini. Saya hanya ingin mengingatkan kalau masing-masing kita itu sadar atau tanpa sadar, sepele atau besar, sering membedakan perlakuan kita atas nama penampilan. Ya.. Tidak sepenuhnya salah sih, masak sudah dandan cantik perlakuan yang didapat sama seperti kuli bangunan? 

Jadi.. Mungkin kesimpulannya pintar-pintar menempatkan diri dan menghargai saja, yaa? Seringnya, kita kan memerlakukan seseorang sebagaimana kita diperlakukan.

P.S.: Sinyal internet di kosan saya jelek banget. Belum lagi banyak tugas yang (sayangnya) nggak mandang penampilan. Jadi, saya belum bisa sering posting dan berkunjung seperti biasanya. Maaf ya :( Mungkin nanti kalau tugas-tugas sudah agak ringan :) Salam kangen <3

8 comments:

  1. ahahai... penampilan memang bukan segalanya, tapi penampilan itu pentiiiing buat first impression. tragisss... (apanya yg tragis ya??)

    ReplyDelete
  2. Nice way of thinking
    Kalo udah kecampur emosi, semua orang juga sulit berpikir jernih
    Dan memang harus kita akui, di dunia ini masih banyak orang yg judge the book by its cover
    I mean, siapa sih yg mau punya suami/istri jelek? Hahaha...

    ReplyDelete
  3. MIRIS!

    tapi selalu seperti itu kejadiannya. orang "susah" gak boleh dapat "pelayanan"..

    Semoga generasi pendobrak selanjutnya bisa merubah paradigma ini..

    ReplyDelete
  4. meeeh :O sebel banget itu petugas ckckck emang suka gitu deh liat penampilannya dulu.

    sama ayah sy juga klo kemana2 pakaiannya nyantai banget dan motto-nya juga sama yang penting dompetnya tebel :P

    ReplyDelete
  5. ezzz, nyebelin banget..
    saya juga pernah lihat hal serupa pas lagi ngantri diloket pembayaran spidi,ckkckk..
    ikutan sakit hati

    ReplyDelete

Hi, there. Thanks for stopping by ^^ Kalau mau komentar, jangan anonim, yah! :)