Bloglovin Google+ Facebook Twitter Image Map

25 April 2012

Aku masih percaya karma. Itu saja...


"When karma comes back to punch you in the face, I want to be there. Just in case it needs help." -Tumblr 

Beberapa waktu yang lalu, ada kejadian yang membuatku yakin, aku masih boleh percaya pada karma. Ya, karma nyatanya masih ada. Kalau boleh jujur, memang, karma itu datang pada seseorang yang sudah aku tunggu-tunggu kapan karmanya datang. Sebut saja aku jahat, biar. Namun, sebenarnya, percaya pada karma adalah pilihan terakhir bagiku setelah membalaskan hal yang sama dirasa tidak mungkin. Percaya pada karma ibarat obat peringan rasa sakit, agar aku bisa melepaskan, merelakan...

Sama halnya dengan berbuat baik kelak akan mendapat balasan baik dari Tuhan, begitulah percayaku pada karma. Bedanya, balasan baik dari Tuhan tidak tergesa-gesa aku inginkan, tetapi karma, pada sebagian orang, aku penasaran datangnya kapan.

Menurutku, ada korelasi yang erat antara perlakuan buruk yang aku dapatkan dari orang lain di masa kini dengan perbuatan burukku pada orang lain di masa lalu. Mungkin karena keyakinan itulah aku menginginkan seseorang mendapatkan hal yang sama dari apa yang telah dilakukannya padaku. Ah, makin terlihat jahat kan... Tetapi hal ini juga membuatku tidak langsung membenci seseorang. Biasanya, setelah mendapat perlakuan buruk, aku mengingat-ingat lagi apakah hal yang sama pernah aku lakukan sebelumnya. Apakah ini karmaku? Kalau memang iya, artinya bukan tanpa alasan aku mendapatkan hal ini dari seseorang yang lain sekarang. Akan tetapi, bila seingatku aku tidak pernah melakukan hal serupa, aku akan meminta karma pada Tuhan untuk orang yang berlaku buruk padaku itu. Iya, aku jahat kan...

Aku pernah mendengar pernyataan Raditya Dika yang agak berkaitan dengan hal ini. "Mungkin kita emang udah move on, tapi kita belom bisa let go..." Iya, aku sudah memulai hidupku yang baru, beranjak dari tempat yang sudah diacak-acak seenaknya oleh orang lain sampai membuatku tidak nyaman. Namun, nyatanya aku belum sepenuhnya melepaskan dan merelakan itu terjadi. Rasanya seperti belum impas dan karmalah yang membuatnya impas. Hhhh... Makin jahat ya?

Kejadian beberapa waktu lalu, yang aku sebutkan di awal tadi, sudah membuat apa yang terjadi di antara kami impas. Aku merasa tidak lagi memiliki kaitan apa-apa dengan dia. Apa pun yang dia lakukan, bagaimana dia sekarang, sudah bukan urusanku. Ya, aku sudah bisa melepaskan, merelakan...

Kalau ada yang menyebutku pengecut, mungkin iya. Kalau ada yang beranggapan aku tidak mau ambil risiko, barangkali saja. Kalau ada yang mati-matian berteriak aku jahat, IYA AKU JAHAT. Memangnya kenapa kalau aku percaya karma?

4 comments:

  1. i do believe with karma. :)
    aku pernah kena karma dan aku sering berharap seperti apa yang mbak jelaskan dipostingan diatas. hehe :D

    ReplyDelete
  2. manusia akan cenderung percaya pada apa pun yang akan membuatnya merasa nyaman. itu wajar kok :)

    ReplyDelete
  3. Ya, aku juga percaya sama karma. Percaya aja apa pun yang kita lakuin, mau baik atau buruk semua pasti ada balasnya, meski dalam bentuk yang berbeda

    ReplyDelete
  4. Aku juga percaya dg karma,karma itu memang ada.
    Dulu aku pernah buat seseorang sakit hati dan menyia-nyiakannya,skrg aku ngerasain rasanya disakiti dan disia-siakan sama org yg aku sayang. Setelah aku pikir pikir,mungkin ini karma atas perbuatan aku di masa lalu.
    Tp pada akhirnya,yg menyakiti bakal disakiti,yg menyia-nyiakan bakal disia-siakan.
    Aku jd ga sabar pengen liat dia pada saat tertimpa karmanya

    ReplyDelete

Hi, there. Thanks for stopping by ^^ Kalau mau komentar, jangan anonim, yah! :)