Bloglovin Google+ Facebook Twitter Image Map

13 December 2013

Menghormati Pilihan Orang Lain

Pict from here
Aku tidak habis pikir mengapa ada banyak orang di dunia ini yang memandang rendah pada orang yang punya nilai bagus di sekolahnya. Mereka bilang, pelajar itu kerjanya bukan cuma belajar. Mereka bilang organisasi itu penting. Mereka bilang sekolah hanya belajar dan pulang saja itu cupu. 

Aku bukan berkata seperti ini karena menyalahkan anggapan itu. Barangkali, itu juga benar. Setiap orang boleh berpendapat, tapi perlu diingat, setiap orang juga berhak membuat pilihan. Lalu, yang aku tak habis pikir, mereka yang sibuk berorganisasi, mereka yang kerjanya tidak cuma belajar dan pulang, mengapa tidak bisa menghargai orang yang pilihannya tidak sama dengan mereka?

Banyak sekali orang yang bilang kalau nilai IPK itu hanya sebatas tulisan di atas selembar kertas. Tak berguna. Tak pula menentukan suksesnya seseorang. Namun, hei, lupakah mereka yang mengatakan itu kalau kesuksesan itu berbeda-beda artinya bagi setiap orang?

Bagi mereka yang mengatakan itu, barangkali sukses adalah ketika mereka bisa kuliah sambil berorganisasi. Barangkali sukses adalah ketika mereka punya banyak teman dan begitu terkenal di lingkungannya. Barangkali sukses adalah ber-IP biasa, tetapi cepat sekali mendapatkan pekerjaan.

Bagiku, sukses adalah... Berhasil membuat Bapak dan Ibu tersenyum bangga.

Dahulu, saat awal memasuki bangku kuliah, aku pernah bilang pada Bapak dan Ibu, nanti saat aku wisuda, aku akan dipanggil ke atas panggung karena menjadi mahasiswa terbaik dan melihatku di sana, Bapak akan tersenyum sambil mengusap air mata di pipinya, sedang Ibu akan menepuk bahu Bapak, menenangkan.

Aku tak pikir panjang saat mengatakan itu, tapi siapa sangka setiap harinya ketika aku mulai merasa lelah dan jenuh belajar, kata-kata itu terngiang-ngiang. Kata-kata yang keluar begitu saja ternyata kian hari malah terasa seperti janji yang harus ditepati.

Aku sering kali tidur pagi buta. Aku mengerjakan tugasku di malam hari lalu setelah selesai kusempatkan membaca catatan kuliahku yang lain. Kalau musim ujian tiba, aku mengerjakan tugas sepulang kuliah lalu kusempatkan tidur siang barang satu jam. Setelahnya, aku kembali belajar untuk persiapan ujian. Saat magrib tiba, aku istirahat mandi, shalat, lalu kembali melanjutkan belajar sampai paling tidak pukul satu pagi. 

Bohong kalau kubilang aku tidak capek, tapi janji itu membuat aku merasa harus berusaha lebih keras lagi setiap harinya.

Bagi beberapa orang, mungkin mudah saja mencontek saat ujian. Namun, Bapak, sejak aku kecil beliau mengatakan padaku kalau ujian ialah saat dimana aku dapat mengukur kemampuanku. Ujian bukan soal nilai. Aku dapat nilai jelek pun, bila itu hasil dari otakku sendiri, Bapak tidak memarahiku. Bapak bilang, berusahalah semaksimal mungkin setiap kali ada kesempatan, hasilnya baik atau buruk nantinya pasti tidak akan menyesal. Ini membuatku jadi tidak bisa mencontek. Kalau ada teman yang menawarkan, pasti kubilang kalau aku tidak ahli mencontek, aku takut contekanku jatuh.

Tanggal 25 September 2013 lalu, aku kaget sekali saat melihat kursi tempat dudukku untuk acara wisuda berada paling depan. Panitia bilang, aku akan maju ke depan mewakili mahasiswa di program studiku saat acara wisuda esok harinya. Saat itu aku masih sibuk berpikir, apakah ini maksudnya aku jadi salah satu mahasiswa terbaik?

Aku mendapat jawabannya ketika panitia yang lain mengatakannya padaku. Hari itu, aku benar-benar tidak bisa menahan air mata. Ini bukan mimpi, kan?

Saat Bapak dan Ibu tahu soal ini, mereka jadi semangat sekali untuk hadir. Malahan, Bapak yang biasanya tidak suka belanja baju baru, jadi semangat membeli baju. Di telepon Bapak bilang ia sudah beli baju bahkan sepatu baru. 

"Masa anak Bapak cum laude, Bapak pakai baju lama dan sandal, sih? Besok Bapak pake baju sama sepatu baru, Nduk. Biar keren pas ngeliat kamu,"

Ya Tuhan, mendengar itu aku jadi menangis lagi. Aku nggak tahu kalau efeknya akan seperti itu. Juga, aku benar-benar tidak tahu kalau janjiku--yang terlontar begitu saja--akhirnya berhasil kutepati. Aku sukses. Inilah kesuksesan untukku.

Kalian tahu, Bapak dan Ibu itu kerja sampai larut malam, sama larutnya seperti saat aku belajar, hanya demi membiayai kuliahku. Jadi, apa masih begitu hina kalau aku memilih untuk belajar dibanding ikut acara ini atau itu? 

Setelah wisuda usai, saat orang-orang bingung mencari kerja, aku juga mengalaminya. Namun, di tengah putus asaku, Bapak dan Ibu menyadarkanku. 

Mereka bilang, aku harusnya santai saja, tidak perlu memaksakan bekerja di tempat yang tidak aku inginkan. 

Bapak bilang, Bapak dan Ibu itu bukan orang tua yang berpikir "kamu udah mahal-mahal dikuliahin, bukannya cepet kerja sana". Nggak, Bapak dan Ibu justru tidak akan senang bila aku memaksakan bekerja padahal aku tidak suka. Beberapa kali ada tawaran kerja di tempat yang agak jauh, Bapak dan Ibu justru yang paling keras melarangku. 

Puncaknya, aku benar-benar sadar saat Ibu bilang padaku, "Nda, orang yang udah pada kerja itu, nggak semuanya lho mereka merasa bahagia dengan pekerjaannya. Makanya, Bapak dan Ibu nggak mau kamu juga seperti itu. Sabarlah dulu, tunggu, jangan karena pengen cepet kerja jadi pendek pertimbangannya. Kamu tahu, kan, selama ini Allah selalu kasih yang terbaik buat kamu, nggak pernah kasih yang biasa-biasa aja? Makanya, sekarang juga gitu. Allah itu masih nyariin kamu tempat yang terbaik, yang bikin kamu bahagia nantinya."

Mendengar nasihat panjang lebar itu, aku cuma bisa nangis.

Meskipun aku bilang aku mau kerja dulu, Bapak juga masih saja berusaha cari-cari kampus buat aku. Bapak mau aku meneruskan kuliah, tapi juga nggak melarang bila nanti jalannya aku memang harus bekerja.

Bapak dan Ibu benar-benar menyuruhku tutup telinga dengan omongan orang lain. Iya, orang-orang yang sebal dengan Bapak dan Ibu karena bukan orang kaya tapi sok-sok menguliahkan anaknya, belakangan ini sedang senang sekali mencibir. 

"Loh, Bu, anaknya pinter, kan? Kok lulus kuliah belum kerja-kerja? Anak saya aja lulusan SMA udah kerja di blablabla nggak lama setelah lulus."

Bapak dan Ibu meminta aku benar-benar tutup telinga dengan omongan-omongan itu.

"Suatu hari nanti, kamu bakal tau, Nduk, sukses itu nggak melulu soal uang atau pekerjaan. Kamu nggak boleh iri sama orang yang nggak bekerja dan berjuang sekeras kamu, tapi kelihatan begitu baik nasibnya. Kamu nggak boleh membanding-bandingkan apa yang kamu dapat dengan apa yang orang lain dapatkan. Belum tentu, lho, orang yang bikin kamu iri itu hidupnya lebih bahagia dari kamu. Buat Bapak dan Ibu, yang paling penting itu kamu bahagia."

Begitu pesan Bapak.

Sekarang, aku jadi merasa tenang sekali menjalani hari-hariku. Tidak ada lagi perasaan dikejar waktu. Sekarang kalau ada yang bertanya, "Nda, berarti sekarang kamu nganggur dong di rumah?"

Jawabannya, "Nggak. Aku sibuk melakukan hal-hal yang membuatku bahagia." :p

Intinya, aku mau bilang pada kalian kalau kita itu nggak boleh menyepelekan pilihan orang lain. Kalau memang lebih suka berorganisasi, ya lakukanlah itu. Sukseslah di sana. Kalau lebih suka belajar, ya lakukan. Sukses juga di sana. Namun, selalu ingat kalau setiap orang sudah bekerja dan berjuang keras untuk pilihannya itu. Jangan merendahkan satu dengan yang lainnya. Sama seperti kesuksesan yang beda artinya bagi setiap orang, kebahagian juga berbeda-beda asalnya bagi setiap orang.

Aku bahagia bila berhasil membuat Ibu dan Bapak tersenyum bangga melihatku. Kurasa itu bukan hal yang hina. Jadi, bisa, kan, stop memandang rendah pilihanku ini? Bisa, kan, stop mengatakan kalau IPK yang kudapatkan susah-susah dan udah bisa bikin Bapak dan Ibu bahagia itu cuma sampah? 

Lewat tulisan ini, aku mau ngingetin kalau setiap orang itu berhak memilih perahu mana yang akan ia gunakan dan ke mana ia akan mendayung.
***
Aku: "Bu, aku masih nggak nyangka loh, dari segitu banyak orang, bayangin deh, masa aku yang IPK-nya paling tinggi? Aneh, kan?"
Ibu: "Kalau buat Ibu, sih, nggak aneh. Dari awal liat kamu belajar sampai pagi gitu, Ibu udah tahu, nggak ada yang usahanya sekeras kamu."

7 comments:

  1. Mandaaaa~ kau mencuri kursikuuuu~ hahaha :D tapi, bener omongan ibu kamu yang paling akhir ini. "Kalau buat ibu, sih, nggak aneh. Dari awal liat kamu belajar sampai pagi gitu, Ibu udah tahu, nggak ada yang usahnya sekeras kamu." Itu yang nggak gue lakuin. Gue nggak belajar sampe pagi *boro-boro sampe pagi. jam 10 malem aja udah wassalam >.<* dan akhirnya, kursi cum laude-nya dicuri kamyuuu :D hahahaha

    ReplyDelete
  2. hebat!!!
    aku juga pingin kayak tante manda...

    ReplyDelete
  3. merindiiiiing ya allaaah bacanya :)

    ReplyDelete

Hi, there. Thanks for stopping by ^^ Kalau mau komentar, jangan anonim, yah! :)