Bloglovin Google+ Facebook Twitter Image Map

28 February 2014

[Mozaik Blog Competition 2014] Melangkah Menujumu


Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id

Sekian tahun lalu, saat masih memakai seragam putih-biru, aku mengenal seseorang yang lewat dia akhirnya aku tertarik menulis. Iya, saat itu aku belum punya ambisi untuk menjadi seorang penulis "beneran". Karena dia, aku menjadi senang menulis cerpen dan puisi, hanya sebatas itu.

Namanya Bulan. Dia cewek pendiam yang seingatku hampir setiap hari menenteng novel. Bisa dibilang awal ketertarikanku membaca novel juga karena melihat dia. Tiap jam istirahat, kalau tidak tengah tenggelam dengan bacaannya, Bulan pasti sedang sibuk menulis. Saat tahu yang dia tulis itu cerpen, aku langsung melakukan segala cara untuk membuat dia mau membiarkan aku membaca cerpen buatannya.

Lewat Bulan, aku tahu cara lain untuk melegakan kesedihan. Lewat Bulan, aku tahu cara paling tepat menyampaikan cinta diam-diam. Bulan membuka mataku kalau menulis itu menyenangkan.

Sejak saat itu, aku banyak mengisi halaman belakang buku tulisku dengan cerpen dan puisi. Aku mendapat inspirasi untuk tulisanku dengan mudah. Hanya dengan melihat tingkah teman-temanku atau kadang... Tingkahku sendiri.

Karena gairah menulis itu semakin kencang berembus, aku mulai mencari tempat menyalurkannya. Aku mulai tidak puas kalau tulisanku hanya dinikmati sendiri. Aku ingin orang lain ikut membacanya. Aku ingin... Mendapat komentar dari orang lain.

Beruntung di sekolahku ada klub Majalah Dinding. Tanpa pikir panjang, aku keluar dari klub Palang Merah Remaja--yang setengah hati kuikuti karena pada dasarnya aku takut darah-- lalu bergabung dengan klub Majalah Dinding.

Lewat klub tersebut aku belajar banyak hal. Aku bukan hanya menulis cerpen dan puisi, tetapi juga artikel. Rasanya menyenangkan sekali, apalagi jika tengah bertanggung jawab dengan rubrik Zodiak. Yah, ini bocoran untuk kamu biar nggak percaya zodiak, ya, karena kadang si pembuat zodiak yang tak bertanggung jawab (itu aku!) suka menjelekkan isi zodiak orang karena lagi sebel sama pemilik zodiak itu :p.

Saat memasuki masa SMA, aku makin suka menulis, tetapi kali ini aku tidak lagi melakukannya di buku tulis. Aku menuangkannya di blog pribadiku. Sesungguhnya, saat ini aku rindu diriku yang dulu, yang dapat dengan mudah menemukan inspirasi. Yang menulis tanpa pikir panjang. Yang menulis tanpa peduli orang lain akan suka atau tidak. Aku rindu kebebasan menulis yang dulu aku punya.

Karena aku mulai bermimpi untuk menjadi penulis, aku memutuskan untuk kuliah di jurusan yang sesuai dengan minatku tersebut. Namun, seperti yang telah kutulis di sini, aku malah menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Selama kuliah, aku malah tidak produktif. Aku jarang sekali menulis. Sampai kemudian, di detik-detik menuju kelulusanku, aku baru sadar kalau alih-alih mendekat, aku malah semakin menjauh dari mimpiku sendiri. Bagaimana aku bisa mewujudkan mimpi jadi penulis itu kalau aku bahkan tidak pernah membuat sebuah tulisan?

Iya, sih, aku dapat ilmunya. Aku tahu cara menulis yang baik bagaimana. Aku tahu sekali teorinya, tetapi praktik... Aku jarang sekali praktik. Hanya beberapa kali dan itu pun karena tuntutan tugas. Menyadari hal itu, aku jadi nelangsa sendiri. Aku jadi merasa bersalah.

Aku menebus kelalaianku itu segera setelah menyadarinya. Aku mulai mencari-cari informasi tentang lomba menulis. Aku pelajari syarat-syaratnya. Aku penuhi dinding di samping tempat tidurku dengan tempelan tulisan berisi deadline tiap lomba menulis yang aku temukan.

Satu lomba, berhasil. Cerpenku ikut dibukukuan di antologi bertema "Surat". Memang penerbitnya indie, memang aku tidak mendapat uang dari sana, tapi aku kembali mengingatkan diriku akan niat awal aku mengikutinya: AKU HANYA INGIN TERUS MENULIS.

Lomba berikutnya, berhasil. Tema "Long distance relationship" yang menjadi syarat lomba tersebut membuat aku menulis dari hati yang paling dalam. Yaa, secara aku ini sekarang lagi LDR-an. Melihat namaku tertera di website penerbit mayor tersebut rasanya benar-benar melebihi mimpi indah. Aku sampai mengeja namaku di sana karena takut salah baca. Membaca bagian hadiahnya membuat aku lebih terbengong-bengong lagi, katanya kumpulan cerpen para nominator tersebut akan dibukukan dan diterbitkan secara nasional. INI BENERAN, KAN? Karena masih tidak percaya dengan apa yang aku baca, sampai tiga atau empat hari setelah itu aku masih bolak-balik membuka website tersebut, memastikan tidak ada perubahan di sana.

Lomba setelahnya, ....gagal. Rasanya terpukul sekali merasakan gagal setelah selalu berhasil. Rasanya sakit dan langsung membuatku malas menulis. Buat apa menulis? Nanti juga gagal lagi.

Gara-gara kegagalan di lomba itu, aku menyia-nyiakan kesempatan yang datang dalam bentuk lomba menulis lainnya. Bahkan, saking dahsyatnya pukulan kegagalan itu, pikiranku seperti mandek, tidak mau diajak kompromi. Layar Microsoft Word hanya kupandangi. Berjam-jam berlalu, tetapi layar tersebut masih saja putih, tak berisi.

Sekitar sebulan kemudian, saat penyelenggara lomba yang kusia-siakan mengumumkan daftar pemenang, kesadaranku seperti dikembalikan. Aku benar-benar menyesal dan iri setengah mati dengan para pemenang itu. Aku lupa... Aku lupa kalau dulu tujuan awalku mengikuti lomba menulis ialah untuk dapat terus menulis. Sesederhana itu. Aku merasa bodoh sekali telah menyia-nyiakan kesempatan yang secara tidak langsung Tuhan berikan padaku. Tiba-tiba juga, aku teringat pada kutipan yang pernah kubaca. 

Keajaiban itu datang setiap hari. Tuhan memberikannya lewat kesempatan-kesempatan yang datang. Dengan berani mengambil kesempatan itu, kita telah memberi peluang untuk diri kita menerima keajaiban.

Kira-kira begitulah isinya. Aku sungguh bersyukur segera bisa menemukan titik balik. Dari situ, aku mulai melatih diri untuk bisa menulis lagi. Aku mulai meyakinkan diriku kalau sejauh apa pun Tuhan menaruh mimpiku, aku pasti akan sampai ke sana bila terus melangkah.

Sampai saat aku menulis ini, aku masih berada di tengah perjalanan. Aku belum juga sampai meski telah lama melangkah. Kalau kamu bertanya lelah atau tidak, ya, aku lelah. Namun, aku tahu aku harus tetap melangkah. Aku harus menyelesaikan perjalanan ini. Aku harus menjadi penulis. Aku harus bisa melahirkan buku milikku sendiri. 

Aku harus bertahan... 

...Karena jika aku menyerah, aku tidak yakin itu akan membuatku lebih bahagia dari sekarang.

13 comments:

  1. Good luck ya dear! Semoga menang :) mind to follow each other?

    Don't forget to join Hanake Label Giveaway on my blog, click here. Win the prize with total value IDR 450.000.
    Cheers,
    Karina Dinda R. ♥
    BLOG | TWITTER | INSTAGRAM

    ReplyDelete
  2. keren ka :) jadi mau punya semangat kayak ka nata :) visit balik ya ka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaa makasih Toms XD

      btw, kamu orang pertama yang manggil aku Nata ;)

      Delete
  3. terus nulis ,, menyenangkan apa bila tulisan kita bisa menjadi ilmu atau menyenangkan bagi orang lain :)

    ReplyDelete
  4. beneran lho ya... buku sendirinya harus keluar lho ya... sumpahmu kuingat bener2 nih. jangan ngomong gitu cuma karena tulisannya diikutin kontes. aku inget inget nih... hhihihi

    ReplyDelete
  5. Aaaaaaa iyaaaa, SIAP! hihihi aku juga mau, kan, jadi kaya kamu... Bisa make label penulis dengan LEGAL XD

    ReplyDelete
  6. Tetap semangat menggapai cita-cita, ya :D

    ReplyDelete
  7. Bagus, semoga menang ya.. dan cita2nya utk jadi penulis buku tercapai. Amin.

    ReplyDelete
  8. ini aku banget lho :'(

    Semangat untuk kita berduaa!!!

    ReplyDelete
  9. Aaakk
    Ganbatte kak mandaaa!

    Agak mirip kisah kita..
    :')

    Jadi tertarik pengen ikut giveaway nya jugaaa

    ReplyDelete

Hi, there. Thanks for stopping by ^^ Kalau mau komentar, jangan anonim, yah! :)