Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling telp/sms/bbm dll tapi keduanya diem2 saling mendoakan .. -@sudjiwotedjo
4 September 2011
30 August 2011
Selamat Lebaran
Wah, alhamdulillah yaa besok lebaran. Nggak diundur lagi kan? Hehehe. Biasanya nih seminggu sebelum lebaran, aku sudah sibuk memikirkan kata-kata apa yang nantinya akan kukirimkan pada teman-teman. Harus puitis. Satu ucapan untuk semua. Sama rata. Tapi itu dulu....
Seperti kalian, beberapa hari sebelum lebaran, aku pun menerima banyak ucapan via sms (Iyaa, sms. Memangnya kenapa kalau tak ada yang meneleponku ha?) Hampir semua sms tersebut, kuakui, sangat indah dibaca. Tapi, sebentar, sejujurnya, aku tidak membacanya sampai selesai. Aku hanya membaca bagian akhirnya saja. Bosan? Mungkin. Terlalu banyak sms yang seperti itu. Setelah dipikir-pikir, memang ada beberapa hal yang membuat aku melakukannya.
Pertama, bertele-tele. Ya Tuhan, maafkan hambamu yang sok ini. Anggap saja aku iri karena tak bisa membuat yang seindah itu. Tapi, di hari raya seperti ini, setiap orang akan banyak menerima sms serupa. Dan, untuk membaca kesemuanya yang panjangnya lebih dari 3 sms masing-masing itu tentu saja lama-lama membosankan. Bukan salah kalian kok, ini salah orang-orang yang mudah bosan sepertiku.
Kedua, kirim ke banyak. Mengerti maksudku? Seperti yang kulakukan lebaran-lebaran sebelumnya. Satu ucapan untuk semua orang yang pada kenyataannya memiliki keakraban yang berbeda. Selain itu, orang yang egois sepertiku ini, merasa kalau sms seperti itu tidak spesial. Tidak dibuat khusus untukku. Yah, tak perlu juga sms untuk aku diselipkan kata cinta di dalamnya. Hanya saja, sapaan yang menunjukkan itu untuk aku. Sederhana, tapi itu cukup spesial bagiku. Yah, bandingkan saja rasanya saat kalian berjalan lalu ada seseorang yang menyapa kalian dengan "Hey!" dan setelahnya, seseorang yang lain menyapa juga. Kali ini berbeda, "Hey, Nda!" atau "Manda..." Lebih wah yang mana?
Ketiga, hmm.. Rasanya cukup dua aja. Takut dilempar sepatu baru oleh kalian, hehehe.
Terus, setelah kritikan kamu itu... Emang kamu sendiri gimana, Nda?
Yup, pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Lebaran kali ini, aku mengirimkan ucapan berbeda ke tiap-tiap orang. Sederhana kok isinya. Hanya permintaan maaf dan ucapan selamat lebaran saja. Tentu saja kalimatnya aku sesuaikan dengan siapa penerimanya, aku pernah salah apa, dan.. Tidak lupa, dia pernah salah apa, hahaha. Kalau teman jauh, aku buat tanpa basa-basi. Kalau yang dekat, hmm, aku berani menulis ucapan yang agak nyeleneh. Mumpung sudah akrab, hehe.
Memang capek sih harus mengetik satu persatu untuk setiap nomor. Tapi, aku hanya ingin melakukan sedikit usaha untuk menyampaikan maaf itu. Aku mau mereka menerima ucapan yang memang khusus untuk mereka. Menurut kalian pasti merepotkan, yaa? Hmm, tahu tidak, aku mengirim lebih dari 100 sms ucapan loh! Baterai ponselku sampai habis. Kalau dari efisiensi, tentu caraku ini salah. Tapi, itu kan untuk kalian yang tidak punya waktu. Sedang aku, waktuku banyak. Kesibukan hampir tidak ada. Mungkin ini juga faktor pendukungnya kali yaa? Hahaha.
Nah, untuk kalian semua, pembaca Instan tersayang, karena tak ada nomor telepon, karena belum hapal nama kalian satu persatu, aku massalkan saja yaa ucapannya? ;)
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Mohon maaf lahir batin atas segala luka, baik yang masih terasa maupun yang sudah tak ada bekasnya (masih aja ngomongin luka) Jangan ada benci diantara kita, ya? ;)
Salam nastar penuh cinta <3
Label:
Dari Dinata Untuk Pembaca
26 August 2011
Selamat Ulang Tahun, Amanda
Barangkali aku akan membeli kueku sendiri. Menyalakan lilin di atasnya. Dan meniupnya. Sendirian. -21'08
22 Agustus yang lalu, usiaku menginjak 18 tahun.
Hari itu, aku gelisah menunggu siapa orang pertama yang memberiku ucapan selamat. Dan, sekitar pukul 1.30, ponselku berbunyi. Dari bapak. Saat aku menekan tombol jawab, tak ada sapaan yang kudengar. Hanya.... Lantunan lagu Happy Birthday! Aku tidak tahu lagu itu didapat darimana. Dugaanku sih, itu dari kaset milikku saat kecil dulu, hehehe. Air mataku tiba-tiba saja tumpah. Aku ingat beberapa tahun yang lalu saat aku belum tinggal di Jakarta. Saat itu, aku dibangunkan oleh nyanyian kedua orang tuaku. "Selamat ulang tahun, kami ucapkan.. Selamat panjang umur, kita kan doakan..." Bapak asyik menepuk-nepuk tangannya sedang ibu membawa kue ulang tahun untukku. Setelah itu, seperti biasa, mereka mencium kedua pipi dan keningku, lalu melantunkan doa dan harapan yang sungguh selalu membuat aku meneteskan air mata.
Saat mendengar lantunan lagu itu di ujung telepon, aku merasa sedih karena harusnya aku bisa melihat langsung wajah sumringah orang tuaku. Air mataku makin deras mengalir. Ya, aku tidak menyangka akan mendapat kejutan ini. Kukira, tak akan ada yang spesial. Umm, ternyata orang tuaku romantis!
Pagi harinya, aku mendapat banyak sekali pelukan dari teman-teman Publishing A :) AKU SENANG!
"Aku pasti dapat bertahan hidup." kataku pada salah satu teman yang sedang memelukku.
"Maksudmu apa?" katanya gelisah. Ya, dia tahu aku baru putus cinta.
"Katanya, untuk bahagia kita butuh 8 pelukan sehari. Dan, lihat! Aku hampir dapat 20!" seruku sambil tertawa.
Kuliah dimulai. Tiba-tiba, Rara yang duduk di sampingku menaruh secarik kertas tepat di atas mejaku. Tuk.. Tuk.. Tuk... Dia mengetuk mejaku agar pandanganku beralih ke meja. Ternyata, kertas itu berisi ucapan selamat ulang tahun dalam berbagai bahasa. Dia baik sekali :)
Siang harinya, aku memutuskan untuk berjalan-jalan dengan 3 sahabatku. Kalian tahu, mengalami putus cinta menjelang hari ulang tahun akan membuat kalian merasa paling malang sedunia. Kupikir, daripada aku terus murung, lebih baik menghabiskan waktu bersama mereka. Sampai di toko buku, ponselku berdering. Sebuah sms masuk. Darinya. Hanya ucapan selamat saja kok. Tapi, setelah membacanya, aku galau seketika. Uh. Tidak lama kemudian, ponselku berdering lagi. Telepon dari kakakku. Kami mengobrol banyak. Hampir setengah jam kurasa.
"Manda, tadi aku ke kosan. Mau ngerjain kamu. Mau ngasih kejutan. Tapi kamunya nggak ada. Jadi aku yang ngerasa dikerjain.... Hiks.. Yaudah aku titip kado sama tante aja jadinya...""Iya, jam sebelas malem tuh aku inget mau ucapin ultah ke kamu. Yaudah aku BBMan sampai tengah malem biar nggak ngantuk. Eh, habis itu, aku malah lupa. Aku ngantuk, yaudah tidur deh. Nggak inget niat ngucapin ke kamu huhuhu..."
"Jangan galau lagi yaa. Nulis yang bagus-bagus makanya, jangan sedih-sedih melulu biar nggak sedih beneran."
Itulah beberapa bagian yang aku ingat dari percakapan kami.
Sambil menunggu adzan magrib, aku dan ketiga sahabatku mulai mencari obrolan. Oya, aku lupa cerita. Satu hari setelah aku putus, Tere, juga putus dengan pacarnya. Dan, tengah malamnya, Gita, juga putus. Ooo. ini bukan karena aku kan? Kalau Nisa... Dia sudah lebih dulu putus dengan pacarnya. Sekitar 4 bulan yang lalu mungkin. Sebagai korban kePUTUSan, akhirnya muncullah obrolan ini,
"Gita, kamu waktu putus, ngomongnya gimana?" tanyaku.
"Oh kamu mau putus? Oke, kita selesai!" jawab Gita, menirukan perkataan mantan pacarnya. "Kalo lo, Ter?"
"Kita putus aja..." jawab Tere. Benar-benar tidak bersemangat untuk membahasnya.
"Oh, kalo aku sih... Mungkin lebih baik kita pisah dulu.. Hahaha.." kataku, memaksakan tertawa. "Kalo Nisa, gimana?" tanyaku.
"Umm, aku... Dia sih yang tanya, 'Mau putus?' terus aku bilang iya.."
"Gila gampang banget..."
"Ih, asyik banget sih itu putusnya..."
"YA AMPUNNNN!"
Kami bertiga agak kaget mendengar jawaban Nisa."Pernah nggak sih kalian ngerasa udah bulet sama suatu keputusan... Tapi setelah itu.. Hanya dengan menerima sms darinya keputusan itu langsung samar lagi? Yang tadinya kalian yakin kalau dia itu jahat, tapi tiba-tiba kalian bilang kalau dia nggak sejahat itu kok. Dia tuh nggak niat kayak gitu.. Atau.. Yah, you know, semacam pembelaan..." kataku sambil mengangkat bahu.
Mereka bertiga tersenyum. Mengiyakan.
"Rasanya tuh masih berat banget..." kata Tere tiba-tiba. "Baru 2 minggu, udah putus. Bayangin..."
"Lo mending, Ter, 2 minggu. Gue 2 tahun, putus gitu aja karena masalah sepele..." timpal Gita.
Saat itu aku tengah membaca novelku. Dengan tidak mengalihkan mataku dari novel tersebut, aku menimpali mereka berdua, "Tapi paling nggak, kalian nggak putus pas mau ultah kan?"
Seketika keduanya diam. Aku tersenyum samar. Merasa menang. Tuh, kan, aku yang paling ngenes nasibnya.. batinku, bangga. *eh
Selesai buka puasa dengan mereka, aku langsung pulang ke kosanku. Saat itu sudah pukul tujuh malam. Tante, pemilik kos, langsung menyambut aku dengan ucapan selamat ulang tahun, begitupun om. Setelah itu, mereka memberikan hadiah yang dititipkan kakakku. Hhhh, aku hampir menangis. Aku suka hadiahnya. Sebuah tas.
Keesokan harinya, Gono, temanku di kelas sebelah, main ke kelasku.
"Mandaaaaa...." sapanya sambil berjalan ke arahku.
"Oy, Gono!"
"Happy birthday..." katanya sambil mengulurkan tangan. Aku menjabat tangannya yang dingin dan jauh lebih besar dari tanganku.
"Ah, makasih Gono.."
Ternyata, masih ada ucapan juga meskipun sudah lewat harinya.Lalu, saat kuliah dimulai, dosenku menjelaskan mengenai kalimat efektif.
"Kucing menangis. Secara ejaan dia benar.. Tapi apa dia adalah kalimat?" tanyanya.
"Bukaaaan" jawab kami malas.
"Iya. Secara logika, mana mungkin kucing menangis." kata dosenku lagi.
"Tapi kan kucing punya hati, Bu...." kata Tere, lirih.
"Tapi kan kucingnya baru putus, Bu..." sambungku yang langsung diikuti tatapan mata plis-deh-nda-jangan-bikin-galau oleh ketiga sahabatku.
Nah, sore harinya, ada acara buka bersama dengan keluarga besar kosanku hihi. Ada sebelas orang. Dan, ya ampun... Masih ada kejutan ternyata. Saat perjalanan pulang, beberapa kakak itu memberi aku ucapan lagi. Dan... 2 dari mereka memberiku tarian khusus. Bisa bayangkan rasanya meliat orang menari untukmu di trotoar yang ramai orang berlalu-lalang? Rasanya, lebih dari bahagia. Kami tertawa sepanjang jalan.
Sesungguhnya rasa bahagia itu sudah kita miliki. Tersimpan dalam hati kita. Pilihannya adalah mau atau tidak kita memakainya.
Untuk semua orang yang menyayangiku, teyimakasih :) Aku juga sayang kalian. Untuk yang belum mau menyayangiku, bolehkah aku tetap menyayangi kalian? Ini ulang tahun terbaik :) Alhamdulillah. Mana pantas merasa paling malang kalau sudah diberi kebahagiaan sebanyak ini!
Aku Amanda. Perempuan. Single. Delapan belas tahun.
7 August 2011
Giveaway Emotional Flutter
Pembaca Instan, ada giveaway lagi nih :D Yuk, cek dulu syaratnya di sini.
Sebenarnya aku sudah lama tahu tentang giveaway ini, tapi karena traumaku akan kegagalan masa lalu *halaaah* aku jadi agak males gitu. Takut kecewa lagi... Hiks. Eh, tapi nggak boleh dong, aku harus belajar dari Keven, penyelenggara giveaway ini. Memangnya kenapa, Nda?
Nah, begini. Keven, pemilik blog Emotional Flutter, pernah kehilangan seseorang dalam hidupnya. Keven menyebutnya Alice, nama disamarkan tentu. Kalian tahu, Keven nggak pernah nyerah dalam mencari Alice. Segala cara dia lakukan. Yah, sayangnya saat itu belum ada Termehek-mehek, yaa. Kalau sudah ada kan Mandala bisa membantu Keven melakukan pencarian tuh, hehe. Mengingat usaha Keven yang segitunya, kayaknya cemen banget kalau aku give up sama giveaway ;) hahaha. Buat yang penasaran sama kelanjutan cerita Keven dan Alice ini, silakan buka label First Love di blognya Keven.
Buat aku, Keven termasuk penulis yang cerdas. Bisa dilihat dari beberapa tulisan yang berisi pemikirannya. Hal-hal sederhana yang biasa kita abaikan dan kita anggap kelewat biasa untuk ditulis, bisa dia jadikan tulisan panjang yang sarat makna loh! Nggak percaya? Monggo cek ini dan ini. Dua tulisan tersebut baru sebagian kecil saja.
Banyak sekali quote yang akan kita temukan kalau sudah mampir ke blognya. Dan, salah satunya, yang paling sering adalah quote dari Michael Jackson. Karena aku termasuk pembaca baru, awalnya aku hanya menebak saja, sepertinya orang ini mengagumi MJ, pikirku. Dan, nggak berapa lama, aku tahu kalau tebakanku benar. Keven menulis tentang sosok legendaris itu di blognya, "The way he inspire me, the way his music touch the life of millions, no words can describe the way I feel for him..."
Sebenarnya banyak banget yang mau aku tulis tentang Keven ini, niatnya mau nge-review, tapi yaaah ternyata aku kesulitan menemukan kata yang tepat, huhu. Mungkin karena blognya Keven ini memang lebih cocok untuk dinikmati daripada direview yaa? ;D
Selamat ulang tahun Emotional Flutter. Selamat atas 100 tulisan cerdasmu ;)
2 August 2011
Fitri Tropica Luncurkan Buku: Kening
Ah, aku ketinggalan berita. Ternyata Fitri Tropica bikin buku, yaa? Oke, siapa sangka si lincah yang sering mempopulerkan bahasa gahol ini akan terjun ke dunia penulisan? Tak tahu kapan pastinya, tapi baru-baru ini dia meluncurkan buku perdananya yang berjudul Kening. Kenapa Kening? Katanya sih, Fitrop ingin memamerkan kening miliknya yang selama ini tertutup poni. Wah, aku mengartikan ini sebagai keinginannya untuk menunjukkan talenta lain miliknya, menulis. Oow, apakah buku ini akan menjadi best seller? Atau hanya akan booming sementara terkait ketenaran yang dimiliki Fitrop? Nah, hal ini sudah terjawab. Kabarnya, buku ini sudah hampir best seller, kawan.
Buku setebal 200 halaman ini menampilkan sisi lain kehidupan Fitrop. Mulai dari cerita sedih, lucu, jatuh cinta, hingga putus cinta yang pernah dialaminya. Eh, tapi kok agak mirip sama konsepnya Raditya Dika, ya? Wah, untuk membuktikannya, tentu kita harus beli dulu, hehehe. Tapi untuk urusan cover sih kita sudah barang pasti nggak akan membandingkan dengan Raditya Dika, beda banget gitu loooh! Ilustrasi dalam bukunya ini dipercayakan Fitrop kepada Koolastuffa. Hmm, bayar berapa ya Fitrop untuk ilustrasi keren tersebut? Haha itu urusan dapur mereka. Jangan ditanya kalau begitu.
Info yang aku dapat dari Gramedia Bookstore sih, harganya Rp 50.000,- Kemahalan? Jangan khawatir, kita bisa ikut pre-ordernya dengan harga yang lumayan MURAH, hanya Rp 23.350+ongkir pastinya. Tertarik? Kalian bisa langsung sms ke 085697888034 untuk melakukan pemesanan atau bisa juga via twitter ke Terrant Books. Bocoran nih, dengan pre-order, kita juga bisa dapetin bonus tanda tangan penulisnya loh. Plus cap bibirnya Fitrop nggak, Nda? Wah, aku ndak tahu kalau soal itu, hehe.
Gimana, kawan? Penasaran? Atau masih ragu-ragu? Nah, buat yang masih ragu, yuk liat sekilas isinya, klik di sini. Setelah kalian klik, kalian akan sampai di salah satu posting tumblr-nya Fitrop. Udah tahu kan di tumblr kita bisa upload suara? Solanya nih, postingan itu berisi rekaman suara Fitrop yang membacakan bagian yang paling dia suka dari si Kening ini. Oya, buat yang sudah membeli, mohon bagi-bagi reviewnya, ya!
P.S.: Tambah satu lagi nih wishlistku. Padahal buku Poconggg Juga Pocong belum kebeli. Uh. Ada yang udah beli bukunya Poconggg? Gimana, bagus nggak?
31 July 2011
Bagaimana Tarawihmu Malam Ini?
Tarawihku malam ini sangat tidak patut dicontoh. Tahu tidak, tadi sepanjang tarawih pikiranku jalan-jalan ke sana-sini. Dan, setelah puas jalan-jalan, aku tiba-tiba teringat dengan Ramadhan yang lalu.
Ramadhan yang kesekian, aku ingat sekali saat itu aku masih kurus dan pendek. Dengan kondisi seperti itu, aku selalu kalah kalau harus berdesakan saat meminta tanda tangan ustadz. Yah, kalian tahu, sedang libur Ramadhan pun sekolah memberikan buku kegiatan Ramadhan yang harus diisi dan ditandatangani pak ustadz. Pagi hari setelah sahur, aku harus berjalan jauh bersama teman-teman untuk mengikuti kuliah subuh di masjid yang letaknya jauh dari rumahku. Brrrr. Udara masih terasa sangat dingin. Dan konyolnya niatku hanya mendapatkan tanda tangan saja. Tak begitu memikirkan materi kuliah subuhnya.
Ramadhan yang kesekian-sekian, aku ingat, masa itu aku semangat sekali solat tarawih. Bagaimana tidak, aku bisa bertemu Kelana, calon pacarku. Dia terlihat manis dengan baju kokonya, as always sih hehe. Kalian tahu, aku masih nakal sekali. Kelihatannya sih aku solat, tapi.... Mataku terus tertuju pada Kelana, memperhatikan setiap gerak tubuhnya hihi. Setelah solat tarawih, Kelana pasti menyapaku, kadang dia yang memintakan tanda tangan pak ustadz, kalau aku yang minta, pasti lama, katanya. Yayayaya, aku lebih memilih menunggu sampai sepi sih daripada berdesakan.
Lucu rasanya mengingat semua itu. Oya, Ramadhan tahun lalu, hari pertama puasa jatuh di tanggal yang sama dengan ulang tahunku. Aku ingat sekali ucapan yang kudapat bertumpuk antara selamat puasa dan selamat ulang tahun hehe. Senang sekali rasanya. Tahun ini, meskipun Ramadhan mendahului ulang tahunku, tapi tetap saja ada hal yang menyenangkan. Ya, karena kuliahku sedang libur, jadi aku bisa menghabiskan minggu pertamaku di rumah, bersama orang tuaku. Menyenangkan :)
Eniwei, ada yang masih ingat lagu ini?
Buffer aja dulu ;)
Nah, waktu aku kecil, aku suka nyanyiin lagu itu. Dan sekarang, pas denger lagu itu, jadi kebayang lagi deh. Hmm, selain bau parfum, lagu juga selalu sukses memutar kembali kenangan masa lalu, yaa? Oke, sudah malam, waktunya tidur. Semoga nggak ada yang kesiangan sahur, yaa :)
P.S.: Selama Ramadhan minimarket dekat rumahku buka 24 jam. Aku bisa jajan tengah malem deh. Hmm, mereka aja nambahin jam kerja, kita jangan mau kalah, yaa. Yuk, tambahin jam ibadahnya selama Ramadhan! Happy fasting :)
Label:
Dinata Punya Cerita
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Selamat siang :)
Sudahkah kalian minum es jeruk hari ini? hehehe besok sudah nggak bisa loh minum es siang-siang. Semoga masih cukup waktu untuk kita menjalankan ibadah puasa, ya. Kemarin, saat hendak berangkat ke kantor, aku sempat melihat sebuah spanduk bertuliskan, "Akankah ini menjadi Ramadhan terakhirku?" DEG! Aku langsung merasa diingatkan. Yah, naif memang, aku berpikir kalau nanti nanti toh masih ketemu Ramadhan lagi dan pikiran seperti itu sungguh nggak baik. Kenapa? Karena pikiran itu aku munculkan saat aku menomorduakan ibadahku. Nggak baik, bukan?Niatku sih, aku harus bisa meningkatkan kualitas diri di Ramadhan tahun ini. Rugi sekali kan kalau Ramadhan hanya membuat kita menahan lapar dan haus saja? Aku mau lebih dari itu. Tak seperti Ramadhan lalu yang malas-malasan. Sekali lagi, kita nggak pernah tahu apakah tahun depan kita masih diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan. Selain itu, Ramadhan ini semoga bisa jadi awal yang tepat untuk aku latihan melupakan, memaafkan, dan merelakan hehe. Ada satu orang yang kehadirannya masih mengganjal hatiku sampai saat ini. Kalian tahu, orang ini tak pernah berbuat salah padaku. Hanya saja kehadirannya membuatku takut terkadang. Ya, takut kehilangan seseorang lainnya. Kehadirannya membuat aku merasa dinomorduakan. Nah, aku nggak mau terlalu lama merasakan yang seperti itu. Lagi pula aku takut kalau perasaan itu dipelihara, lama-lama akan menjadi benci. Kan kata mama, benci sama orang itu nggak baik hihi.
Karena tinggal beberapa jam lagi kita mulai berpuasa, maka aku sekeluarga mohon maaf atas segala salah baik kata maupun sikap, ya, Pembaca Instan. Mari kita sambut Ramadhan dengan sukacita. Jangan lupa mandi dan membersihkan diri, yaa. Dan yang tak kalah penting, jangan lupa berbagi di bulan yang baik ini, HAPPINESS [is] ONLY REAL WHEN SHARED kalau kata Bang Jon Krakauer hehehe. Selamat puasa bagi yang menjalankannya :) Ingat, selama puasa, tak boleh ada benci apalagi dusta diantara kita.
![]() |
| Pict from here |
P.S.: Dari sekian giveaway yang aku ikutin, masa yaa masa nggak ada satu pun yang aku dapet. Sedih :( ngejar UUK nggak dapet, mau adopsi nggak dapet, main ke desa boneka malah nyasar. Fiuh.
Label:
Dari Dinata Untuk Pembaca
30 July 2011
I Feel Like I'm One of The Lucky Ones
Pembaca Instan, selamat sore.
Hmm, kalian masih ingat tulisanku mengenai buku Happiness Inside? Kalau lupa monggo dicek di sini. Beberapa hari setelah aku buat tulisan itu, banyak komentar yang masuk. Salah satunya dari seseorang bernama Tika.
Jujur, awalnya aku agak ragu juga. Dia bukan salah satu dari teman bloggerku. Tak ada link yang dia sertakan. Namun, karena dia bilang dia punya buku itu, aku memintanya untuk menghubungiku via facebook.
Hari rabu siang, aku mengecek facebookku. Ada satu pesan masuk di sana. Ternyata dari Tika. Karena aku kira kami seumuran, aku santai saja membalas pesannya. Layaknya remaja masa kini, aku pakai panggilan 'say'. Setelah pesan balasanku terkirim, aku baru membuka profil Tika ini. Dan, astaga, dari fotonya aku tahu dia tidak seumuran denganku. Tak sampai disitu, status hubungannya......
Jadi..... Orang yang telah aku ragukan itu.... Ternyata pacarnya Mas Gobind, penulis buku itu! Dobel astaga. Aku langsung bingung mau bilang apa. Yang jelas, sepanjang obrolan, Mbak Tika ini nggak pernah menjawab pertanyaanku soal pembayaran. Mbak Tika hanya bilang, "Mana alamat rumahmu? Aku kirim ke rumahmu :)" Aku akhirnya mengirimkan alamatku hari Rabu itu. Dan hari ini, tiba-tiba ibuku bertanya,
I (Ibuku): "Kamu punya temen di Bali?"
A(Aku): "Punya. Tuh, si Dewa"
I: "Bukan ini di Ubud.."
A: Eh? Ubud.....?"
I: "Namanya Tika!"
A: Aku bengong beberapa saat sampai akhirnya... "Oh, Mbak Tika...."
I: Giliran ibuku yang bengong. Kemudian, baru ibu mengeluarkan bungkusan yang tadi disembunyikan di balik punggungnya.
Aku langsung menyerobot bungkusan itu. Dugaanku benar, isinya Happiness Inside! Kalian tahu, masih ada rasa tak percaya sampai sekarang. Buku itu benar-benar sampai ke tanganku. Ah, ini bukan mimpi, kan? Sungguh, Mbak Tika baik sekali. Aku nggak tahu apa yang membuat Mbak Tika memberikannya padaku, tapi yang jelas ini benar-benar kejutan. Dan, tentu saja ini tak lepas dari kehendakNya. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah :)
Aku juga tak tahu bagaimana caranya Mbak Tika bisa sampai di blogku ini dan pada akhirnya membaca tulisanku itu lalu tergerak untuk memberikan buku tersebut padaku. Kalian bisa bayangkan, buku ini aku dapat dari seseorang yang bahkan aku belum sempat berteman dengannya via facebook tapi buku pemberiannya sudah ada di tanganku sekarang. Ah, sekali lagi terbukti, kalau kita benar-benar menginginkan sesuatu, semesta akan berkonspirasi untuk mewujudkannya.
Kalian tahu, sampai sekarang aku masih penasaran, berapa ongkos kirim Ubud-Karawang, ya? hehehe. Oya, aku sempat berharap akan ada surat terselip di buku itu. Yah, apa saja yang bisa membuatku lebih mengenal Mbak Tika ini. Tapi ternyata tidak. Saat aku memeriksa halamannya, aku malah menemukan ini,
| Sapaan dari Mas Gobhind plus tanda tangan juga :') |
Sungguh, ini melebihi apa yang bisa aku bayangkan. Saat aku membuat tulisan soal buku ini, aku hanya berharap bisa mendapat buku secondnya agar lebih murah. Aku hanya membayangkan kalau nanti akan ada salah satu pembacaku yang membaca tulisanku, lalu dia berniat menjual buku miliknya padaku. Tapi hari ini, aku mendapat sapaan dan tanda tangan Mas Gobind. Bukunya kudapat dari pacarnya Mas Gobhind. Aaaaaaah, padahal sebelumnya aku tak kenal dengan Mas Gobhind. Aku hanya sekilas mengunjungi webnya. Alhamdulillah.
Aku memang tak sabar untuk membacanya, tapi aku sempatkan menulis ini dahulu sebagai ungkapan terima kasih buat Mbak Tika dan Mas Gobind :) Aku pasti akan jaga buku ini dengan baik, hihi ;)
Oya, Pembaca Instan, aku akan buatkan reviewnya nanti. Tunggu aku selesai membaca, ya. Happy weekend. Main ke rumah mayanya Mas Gobind, yuk! Klik di sini untuk sampai ke sana :)
26 July 2011
4 in 1
Lalala.. Lalala... Lalalalalalala :D
2.
3.
4.
4. Arum. Waktu itu, doi sempet kasih aku award juga. Duh, seneng deh hihi. Tapi awardnya itu sudah kupajang sebelumnya (ada di posting ini) Nah, jadi sebagai hadiah buat kebaikannya itu, aku mau kasih award ini. Sekali lagi makasih ya, dear :)
Aku baru dapet award lagi *HOREEE* Masih dari orang yang sama. Yep, blogger ini bisa dibilang eksis dan disayang pengunjungnya. Namanya Aul, yah tapi aku lebih suka panggil dia Bang Aul. Kemarin, dia meninggalkan komentar di salah satu postinganku. Katanya, aku dapet award dari dia. Huhuhu dan pas aku lihat, ada EMPAT AWARD, sekaligus.
1.2.
3.
4.
Seperti biasa, award yang diterima harus dibagikan lagi ke blogger yang lain. Dan, aku mau kasih ini ke:
1. Annesya. Beberapa waktu lalu, aku sempat ngasih award juga nih sama blogger yang satu ini. Dan, setelah itu doi bikinin postingan tentang aku (dan kegalauanku). Huhuhu terharu. Makasih, yaa. Banyak doa dari pembaca postingan itu untuk aku (dan kegalauanku) hihi :) Selain itu, tulisan dia itu beragam. Aku suka. Ada seriusnya, ada nyelenehnya, ada.... Yah, cek sendiri sajalah hehe.
2. Ra-kun lari-laRIAN. Bukan, itu bukan nama aslinya. Dia termasuk orang yang rajin sekali komentar di sini. Nggak cuma itu, ada satu postingan dia yang bikin aku jatuh cinta sama blognya. Klik di sini untuk ikut jatuh cinta ;)
3. Miranti Pratiwi. Blogger ini kayaknya seumuran deh sama aku. Dia juga penganut LDR hehe makin sama deh. Dan, diantara sekian banyak posting di blognya, ada satu yang bikin aku galau, klik di sini untuk ikut galau hihi.4. Arum. Waktu itu, doi sempet kasih aku award juga. Duh, seneng deh hihi. Tapi awardnya itu sudah kupajang sebelumnya (ada di posting ini) Nah, jadi sebagai hadiah buat kebaikannya itu, aku mau kasih award ini. Sekali lagi makasih ya, dear :)
Nah, pembagian sudah selesai. Duh, tapi kok aku malah banyak cerita soal postingan yang aku suka, ya? Hehe. Gini, loh, aku termasuk blogger yang kalau sudah membaca satu tulisan dan aku jatuh cinta, aku akan sering datang lagi. Bahkan berkeliling ke tulisan-tulisan lama. Nah, rasanya sayang aja kalau tulisan lama itu nggak kalian temukan karena tertutup tulisan-tulisan baru. Padahal, tulisannya bisa dibilang salah satu terbaik, misalnya. Jadi, yaa, anggap saja aku bantu kalian menemukan hihi. Selamat makan siang, Pembaca Instan.
24 July 2011
Yang Pergi Pukul Tujuh Pagi
"Nduk, bangun. Bu haji udah nggak ada.. Cepet bangun kalau mau ikut ngelayat.."
Aku membuka mataku mendengar suara yang samar-samar itu. Kemudian, menuruni anak tangga satu persatu. Baru tiga langkah, mataku menangkap sorot mata ibu di bawah. Ibu pasti habis menangis. Jadi yang aku dengar tadi.....
Bu haji. Begitu orang biasa memanggilnya. Sebenarnya, dia adalah tetanggaku. Juga rekan kerja Bapak, hampir 5 tahun kalau tidak salah. Kedekatan bapak dengan beliau sudah seperti anak dengan ibunya, tentu sudah barang pasti aku dan ibu pun dekat dengan beliau. Yah, sudah seperti nenek sendiri bagiku. Bapak bilang, semalam bapak bermimpi tentang beliau, nenekku. Di mimpi itu, nenek seperti biasa, menemui bapak sambil tersenyum, bahagia sekali sepertinya. Bapak bilang, nenek juga mengatakan sesuatu, tapi sayang, tak terekam oleh ingatan bapak. Mungkin nenek pamit, yaa...
Mendengar cerita bapak, aku tenang. Nenek bahagia, persis seperti raut yang aku dapati tadi, saat membacakan yasin untuk nenek. Cantik, sungguh. Tidak ada kesan menyeramkan seperti yang aku bayangkan. Aku tak bisa menahan air mataku. Mana nenek yang biasa menyapaku? Kenapa nenek diam saja? Aku mengamati benar-benar. Berharap masih ada tarikan dan hembusan napas, masih berpikir nenek hanya tertidur. Tapi, tidak. Tak ada lagi napas. Aku tak tahu bagaimana caranya Tuhan mengambil napas itu. Aku tidak tahu di mana nenek sekarang. Dan hal itu membuatku lagi-lagi basah air mata. Bacaan yasinku terhenti sesaat karena penglihatanku dikaburkan air yang menggenang di mataku. Kenapa aku masih nangis kayak gini? Rasanya curang, ya... Nenek bisa liat aku terus, tapi aku nggak bisa liat nenek lagi :'(
Hhhh. Aku bakal kangen. Tidak ada lagi orang yang datang ke rumah hanya untuk menanyakan kapan aku pulang, setiap hari, setiap pagi. Tidak ada lagi yang nasehatnya selalu sukses membuatku menangis, "Belajar yang benar. Kasihan bapak ibumu itu, mereka kerja udah nggak peduli capek, nggak peduli sakit. Di Jakarta kalau main hati-hati. Temenan hati-hati. Jaga diri yang bener, yaa."
Aku bersyukur bisa melihat nenek untuk terakhir kalinya. Jujur, baru itu aku duduk di samping orang yang sudah tidak ada, hanya tertinggal raga yang memucat. Rasanya... Aku takut. Aku takut kalau nanti semua orang yang aku sayang juga pergi di saat aku belum siap. Aku tidak mau sendirian. Meskipun, aku tahu, aku tidak akan pernah siap. Dan, tak ada orang yang akan siap sendirian.
Nek, baik-baik, ya. Uh, aku nggak bisa nakal lagi, nih, nenek pasti lihatin aku terus. Tapi nggak papa, aku suka. Aku mau nenek terus melihat aku, melihat perjuanganku, sampai aku berhasil. Kecup sayang penuh doa. Aku sayang nenek.
Mohon doanya, ya, Pembaca Instan. Buat menemani nenek di sana :')
21 July 2011
WANTED: "Happiness Inside" Siapa Mau Jual?
Pembaca Instan, mau bantu aku nggak? Huhu aku baru dari Kaskus nih dan di sana aku baca review buku Happiness Inside yang ditulis oleh Gobind Vashdev. Rasanya aku mau langsung keluar kantor dan ke toko buku sekarang juga. BAGUS BANGET LOH! Nggak percaya? Oke, aku kasih sedikit bocorannya.
| Judul Buku | : | Happiness Inside |
| Pengarang | : | Gobind Vashdev |
| Dimensi | : | 14 x 20 cm |
| Halaman | : | XX + 278 halaman |
| ISBN | : | 978 979 3714 608 |
| Harga | : | Rp. 57.000,00 |
"Terimakasih untuk semua sahabat atas apresiasinya terhadap Happiness Insidesehingga buku yang belum genap 2 bulan sudah cetak ulang.. Semoga membawa kebahagiaan di hati setiap pembaca." -Gobind Vashdev
“Kau sedang mencari apa?” Tanya Pak RT yang melihat seorang warganya sedang kebingungan mondar-mandir di depan rumahnya sendiri. “Oh, Pak RT, saya sedang mencari kunci saya yang hilang,” jawab Jono menerangkan. “Lho, memang kuncinya hilang di mana, Jon?” “Di dalam, Pak.” “Kenapa kamu carinya di luar kalau hilangnya di dalam?” sergah Pak RT sambil mengerutkan dahinya. Dengan polosnya Jono menjawab, “karena di luar lebih terang Pak.”
Itulah sepenggal kisah yang menjadi ilustrasi dalam buku ini. Sebuah analogi yang sangat pas dalam menggambarkan sebuah fenomena usaha manusaia di seluruh dunia , MENCARI KEBAHAGIAAN.
Ya, demi kebahagiaan kita berusaha memenuhi diri dengan berbagai macam fasilitas; harta melimpah, rumah mewah, mobil mewah, kekuasaan, dan lain sebagainya. Tetapi benarkah kita sudah bahagia? Ataukah kita masih merasa bahwa kebahagiaan itu masih begitu jauh dari genggaman?
Gobind Vashdev seorang pembicara multitalenta ini, menjawab alasan kekosongan manusia dalam menjalani hidup dan memberikan jalan keluarnya. Sesungguhnya kebahagiaan tidak punya aturan. Sebuah jalan keluar yang sederhana namun kerap terlupakan. Jalan keluar yang sebenarnya membimbing kita ke dalam, ke diri kita, dan menemukan kebahagiaan sejati .
Sumber: Happiness Inside
Yup, gimana? Bagus? Bagus banget? BAGUS BANGET! Nah, balik ke pertanyaanku di awal tadi, ada yang mau bantu aku? Caranya gampang kok. Kalau kamu, temen kamu, atau sodara kamu punya buku Happiness Inside dan berniat menjualnya, hihi hubungi aku aja, ya! Pengen sih beli yang baru, tapi kemahalan, 57ribu itu bisa buat makan 5 hari kan buat anak kos? Yasudah, mohon bantuannya. Terima kasih.
20 July 2011
Ria Nirwana's Giveaway
Sekali lagi, aku menemukan giveaway *HOREEEE* Kali ini dalam rangka Fourth blog-versary-nya Mbak Ria. Sejujurnya, baru beberapa jam yang lalu aku mampir ke blognya. Wah, aku betah, loh, di sana. Banyak ilmu, banyak kreativitas dan apa yaa aku sampai bingung menggambarkannya, ya sebut saja keindahan deh kalau gitu, hehe. Nah, salah satu yang menggemaskan untuk dibawa pulang adalah ini,
Bagus, yaa? Itu Mbak Ria sendiri yang ngelukis. Uh, KEREN! Mau dapetin juga? Gampang kok, klik ini aja.
Dear Smokers
Dear Smokers, please get a plastic bag and cover yourself whenever you want to start smoking to enable you to enjoy the smoke 100% by yourself. I don't want any percentage of your smoke nor do my friends who don't smoke. Don't kill me if you want to kill yourself.
Regards, Non-smokers.
P.S.: Copy and paste this message at your profile to support the "keep smoke away" campaign.
sumber: Ninda
Regards, Non-smokers.
P.S.: Copy and paste this message at your profile to support the "keep smoke away" campaign.
sumber: Ninda
Label:
Dari Dinata Untuk Pembaca
Adopsi Mereka, Yuk!
Pernah terpikir untuk mengadopsi? Hmm, rasa-rasanya butuh banyak persiapan, yaa, kalau mau mengadopsi. Tapi, di zaman yang serba instan gini, ada juga, loh, adopsi yang cepat, hemat, dan pastinya nggak butuh banyak persiapan. Adopsi anak? Oh, bukan, yang akan kita adopsi di sini adalah *jeng jeng jeng* beberapa buku haha. IYA, BUKU. Mbak Aishi yang mulai kerepotan mengurusi buku-bukunya, yang aku rasa sudah luar biasa banyak, sedang mengadakan pekan adopsi *HOREEE* Ini dia buku-buku yang bisa kita adopsi,
Kalau aku, dari awal udah semangat untuk mengadopsi si manis nomor 2, A Cup of Comfort for Friends. Covernya aku suka dan setelah aku cari asal-usulnya, eh bagus juga, loh! Nggak salah deh pilihanku. Pekan adopsi ini akan berlangsung sampai 31 Juli 2011. Tertarik untuk ikut mengadopsi? Yuk, cek syarat-syaratnya di sini. Selamat menjadi orang tua hihi.
16 July 2011
Moga Bunda Disayang Allah

Judul : Moga Bunda Disayang Allah
Penulis : Tere-Liye
Penerbit : Republika
Tempat terbit : Jakarta
Tahun terbit : Cetakan pertama November 2006, cetakan ketujuh April 2010
Tebal buku : v + 246 halaman
Ukuran buku : 20,5 x 13,5 cm
"Gelap! Melati hanya melihat gelap. Hitam. Kosong. Tak ada warna....
Senyap! Melati hanya mendengar senyap. Sepi. Sendiri. Tak ada nada...."
Pernah tidak kalian membayangkan bagaimana frustasinya diisolasi dari kehidupan? Kalian hanya bisa merasakan, tanpa bisa mengenali apa yang kalian rasakan. Yang kalian punya hanyalah isi pikiran yang membuncah. Rasa ingin tahu yang terkungkung. Kalian hanya bisa marah dan gemas. Ini apa, sih? Kursi? Apa itu kursi? Untuk apa? Untuk duduk? Duduk itu seperti apa?
Kalian tahu, aku suka hujan, aku suka memandangi butiran bening seperti kristal itu. Aku suka mendengar gemericiknya, menenangkan. Apalagi jika hujan turun di malam hari, pasti akan menambah nyenyak tidur. Tapi, pernahkah kalian mengenal seseorang yang menyukai hujan padahal melihatnya saja tak pernah? Menyukai hujan padahal mendengar gemericiknya saja belum? Tentu kalian akan bertanya, lantas apa yang membuatnya menyukai hujan?
Novel ini akan mengenalkan kalian padanya. Membuat kalian mengerti makna hidup dan kehidupan. Novel ini membuat kita belajar dari kanak-kanak bernama Melati yang berjuang mengenal dunia dan isinya meski tembok takdir begitu besar menghadangnya. Tembok ini memang begitu besar. Tidak mungkin dipindahkan, kecuali dihancurkan sekalian.
Membaca setiap kalimatnya membuat aku berpikir sejenak. Menutup telinga dan mataku. Tapi tetap ada sedikit cahaya, ada sedikit suara. Andai saja melati bisa, sedikit. Kalian juga akan belajar dari Karang. Belajar kalau setiap orang memiliki kesempatan layaknya melempar bola ke dinding, 100% pasti kena. Kalian akan belajar dari seorang ibu yang tak pernah lelah mencarikan keajaiban untuk putrinya.
Banyak kalimat aku tulis ulang besar-besar. Aku tempel di kamarku. Semangat hidup. Perjuangan. Kesabaran. Rasa cukup. Segala yang sering aku lupakan diingatkan kembali oleh novel ini. Moga Bunda Disayang Allah, novel yang membuat kita berpikir ketika bahkan setelah membacanya. Novel yang akan dibaca lagi saat otak kita mulai bebal, mulai menyalahkan takdir dan kehilangan kepercayaan pada kemudahan setelah kesulitan. Banyak nilai-nilai kehidupan yang tersimpan. Setiap kejadian bahkan menyiratkan pelajaran untuk kita. Aku sampai membaca setiap lembarnya dengan tidak sabar, meski sesekali berhenti, membayangkan, merasakan, mengelap air mata yang basah di pipiku.
Bila kalian kehilangan penglihatan kalian, kalian masih bisa belajar dari apa yang kalian dengar. Jika kalian kehilangan pendengaran kalian, kalian masih bisa belajar pada apa yang dilihat. Lalu, bila kalian harus kehilangan penglihatan sekaligus pendengaran, apa yang akan kalian lakukan? Bagiku, itu sungguh menyakitkan. Menyakitkan karena tidak bisa menatap wajah Bapak dan Ibu. Tidak bisa mendengar bahkan setiap kalimat yang selalu sama setiap harinya, "Kami menyayangimu, Nak. Bersabarlah. Teruslah berusaha. Kamu harus punya keinginan yang kuat."
Oya, kurang rasanya bila aku sejak tadi bicara nilai kehidupan, tapi tidak membagikannya. Baiklah, kawan. Berikut beberapa nilai yang kutemukan, sisanya kalian carilah dengan membaca novel ini, ya! Jangan menyesal bila lembarannya habis padahal kalian belum puas!
Hal yang paling menyakitkan di dunia bukan ketika orang lain ramai menyalahkan diri kalian. Tapi saat kalian menyalahkan diri sendiri.
Ada yang utuh memiliki seluruh panca inderanya, tapi tak sekejap pun peduli dan bersyukur.
20 tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas hal-hal yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas hal-hal yang pernah kita lakukan meski itu sebuah kesalahan
Dalam proses kepergian, lazimnya yang pergi selalu lebih ringan dibandingkan yang ditinggalkan. Lebih ringan untuk melupakan. Yang pergi akan menemui tempat baru, kehidupan-kehidupan baru, yang pelan tapi pasti semua itu akan mengisi dan menggantikan kenangan lama. Sementara yang ditinggalkan tetap berkutat dengan segala kenangan itu.
Ngomong-ngomong, adakah yang masih lupa bersyukur hari ini?
13 July 2011
Pohon Apel Itu, Masihkah di Tempatnya?
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel itu juga sangat mencintai anak lelaki itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.
"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi, " jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo, bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan dan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi denganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Aduh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkaannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk menggigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil mentikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring dipelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
***
Kisah di atas adalah kisah kita semua. Pohon apel itu ibarat orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana utuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
***
Penggalan cerita di atas kutemukan di buku Belajar dengan Hati Nurani yang dipinjamkan Mas Ryan, teman sekantorku. Kalimat demi kalimatnya tak sadar membuat mataku berkaca-kaca. Ya, aku memang tipe orang yang gampang hanyut oleh sebuah cerita. Lalu aku meminta temanku untuk ikut membacanya. "Kok aku nggak nangis deh bacanya? Nih," ucap temanku sambil mengembalikan buku tersebut padaku.
Barangkali, inilah alasanku menangis. Aku membaca cerita itu saat sedang kangen-kangennya dengan orang tuaku di rumah. Sudah 2 minggu aku tidak pulang. Aku membacanya sambil mengingat apa yang sudah kulakukan. Keegoisanku. Betapa selama mereka menelpon menanyakan keadaanku, aku selalu sibuk bercerita, kadang mengeluh, seperti ingin orang tuaku ikut merasakan bebanku. Padahal, tanpa itu pun, aku tahu, mereka selalu mengkhawatirkanku. Dengan aku jauh dari mereka saja, aku sudah membebani pikiran mereka setiap saat. Ibu pernah bilang, katanya kalau aku belum membalas sms, apalagi sampai larut malam, ibu pasti khawatir. Yang ada di pikiran Ibu, apakah terjadi sesuatu, ataukah aku sudah lelap tidur sampai tidak membalas?
Dulu, di semester awal, Ibu pernah memarahiku lewat sms karena aku tidak membalas smsnya. Saat itu, kondisinya aku sudah membalasnya, hanya saja sms itu belum sampai pada Ibu. Akhirnya kami malah bertengkar. Aku ikut marah. Namun, setelah aku mengirimkan sms yang agak jahat itu, hatiku jadi tak karuan. Aku menangis membayangkan reaksi ibu ketika membacanya. Benar saja. Ibu sedih karena ulahku. Aku bisa merasakan kesedihan itu dari isi smsnya. Aku cepat-cepat minta maaf, meski kalian tahu, untuk mengucapkan kata-kata manis seperti "Maaf, Ibu. Aku sayang Ibu. Tolong jangan sedih lagi. Aku tak bermaksud mengatakannya." Aku tidak bisa. Aku hanya bilang, "Maaf Ibu, aku emosi tadi. Sebagai permintaan maaf, hari ini aku pulang. Ibu masak yang enak, ya!" begitu kataku. Dan, ibuku langsung lupa dengan masalah tadi. Ibu bilang, "Kamu pulang hari ini? Apa nanti tidak kemalaman sampainya? Mau dimasakkan apa?" Aku menangis membacanya.
Lalu kemarin malam, Ibu dan Bapak menelepon. Anehnya, di awal pembicaraan mereka menanyakan hal yang sama. "Kamu sehat, kan? Beneran nggak lagi sakit, kan?" Aku malah tertawa mendengarnya. Aku menanyakan ada apa, tapi mereka bilang, mereka hanya khawatir karena 4 hari berturut-turut aku terus sibuk sejak pagi untuk liputan dan tidur menjelang pagi karena menyusun laporannya. Mereka tidak percaya dengan kesibukkan itu, aku masih baik-baik saja. Kemudian, aku menceritakan kabar baik yang aku dapat. Ya, ternyata libur semesterku diperpanjang. Tidak terlalu lama, sih, hanya beberapa hari. Lalu, aku lagi-lagi mengeluh, "Yah, berarti nanti aku ulang tahun di kosan, Bu? Kan tanggal 22 hari Senin. Masa mau dirayain hari Sabtu atau Minggunya, sih? Kecepetan." Saat itu, ibuku bilang, tak apa, yang penting kan bisa dirayakan bersama keluarga. Mendengar ibu berkata begitu, aku langsung bilang aku mau pakai kue tahun ini. Ibu hanya tertawa sambil mengiyakan.
Kalau diingat-ingat, aku hanya membicarakan diriku terus-menerus. Aku mengeluh inilah, itulah. Tapi, sepertinya tak pernah aku menanyakan pada orang tuaku mereka sedang ada masalah apa. Untungnya, mereka tak pernah mengeluhkan keluhanku.
Untuk kedua orang tuaku. Waktu yang hilang karena aku yang memaksakan kuliah di tempat yang jauh dari kalian selalu menjadi cambukku untuk terus berjuang. Aku tahu, kesuksesanku adalah saputangan yang paling tepat untuk keringat kalian.
Untuk seorang anak di sana, kamu tahu, sekalipun tidak melahirkanmu, dia telah mengurus kamu sampai kamu sebesar sekarang. Dia membiayaimu dari mulai kamu membutuhkan sampai kamu sudah tidak butuh sekalipun, kebutuhanmu tetap diurusnya, kamu pasti tahu itu. Ingatkah kamu? Saat kamu sakit, dia akan mencarikan kamu dokter terbaik, kamu cepat sembuh, hanya itu pertimbangannya. Saat ini, dia, ibumu, sakit. Masih tegakah kamu menyimpan uang yang dulu berasal darinya, daripada menggunakannya untuk kesembuhannya? Tegakah? Di luar sana, banyak orang yang menyesali ketidakmampuannya membiayai orang yang dikasihi. Jangan sampai kamu jadi orang yang menyesal karena ketidakmauanmu membiayai orang yang mengasihimu.
Dan terakhir, untuk kalian, Pembaca Instan, aku bukan mau sok menggurui, kalian bisa baca dari ceritaku, aku belumlah menjadi anak baik. Tapi boleh, kan, aku meminta? Sederhana saja, kalau kalian punya waktu luang, pikirkanlah mereka, orang tua kalian. Tak perlu mengajak mereka jalan-jalan atau berbelanja. Cukup berada di sisi mereka. Itu lebih dari cukup.
Ah, aku tambah kangen. Sesekali aku ingin pergi kuliah lalu pulang ke rumah. Meminum teh hangat buatan Ibu sambil bercerita banyak hal yang terjadi hari itu, seperti saat aku sekolah dulu. Aku ingin begadang mengerjakan tugas kuliah dengan ditemani mereka. Setua apapun aku nanti, aku tetap ingin bermain dengan mereka. Aku mau bercanda dengan Bapak, saling mengejek dan kalau aku kalah, aku berteriak minta bantuan Ibu. Sampai kapanpun, aku mau menjadi anak yang terus bermain dengan pohon apelnya. Sekalipun aku tak bisa memanjat.
Label:
Dari Dinata Untuk Pembaca
Subscribe to:
Posts (Atom)















