Bloglovin Google+ Facebook Twitter Image Map
Showing posts with label Dari Dinata Untuk Pembaca. Show all posts
Showing posts with label Dari Dinata Untuk Pembaca. Show all posts

30 August 2011

Selamat Lebaran



Wah, alhamdulillah yaa besok lebaran. Nggak diundur lagi kan? Hehehe. Biasanya nih seminggu sebelum lebaran, aku sudah sibuk memikirkan kata-kata apa yang nantinya akan kukirimkan pada teman-teman. Harus puitis. Satu ucapan untuk semua. Sama rata. Tapi itu dulu....

Seperti kalian, beberapa hari sebelum lebaran, aku pun menerima banyak ucapan via sms (Iyaa, sms. Memangnya kenapa kalau tak ada yang meneleponku ha?) Hampir semua sms tersebut, kuakui, sangat indah dibaca. Tapi, sebentar, sejujurnya, aku tidak membacanya sampai selesai. Aku hanya membaca bagian akhirnya saja. Bosan? Mungkin. Terlalu banyak sms yang seperti itu. Setelah dipikir-pikir, memang ada beberapa hal yang membuat aku melakukannya.

Pertama, bertele-tele. Ya Tuhan, maafkan hambamu yang sok ini. Anggap saja aku iri karena tak bisa membuat yang seindah itu. Tapi, di hari raya seperti ini, setiap orang akan banyak menerima sms serupa. Dan, untuk membaca kesemuanya yang panjangnya lebih dari 3 sms masing-masing itu tentu saja lama-lama membosankan. Bukan salah kalian kok, ini salah orang-orang yang mudah bosan sepertiku.

Kedua, kirim ke banyak. Mengerti maksudku? Seperti yang kulakukan lebaran-lebaran sebelumnya. Satu ucapan untuk semua orang yang pada kenyataannya memiliki keakraban yang berbeda. Selain itu, orang yang egois sepertiku ini, merasa kalau sms seperti itu tidak spesial. Tidak dibuat khusus untukku. Yah, tak perlu juga sms untuk aku diselipkan kata cinta di dalamnya. Hanya saja, sapaan yang menunjukkan itu untuk aku. Sederhana, tapi itu cukup spesial bagiku. Yah, bandingkan saja rasanya saat kalian berjalan lalu ada seseorang yang menyapa kalian dengan "Hey!" dan setelahnya, seseorang yang lain menyapa juga. Kali ini berbeda, "Hey, Nda!" atau "Manda..." Lebih wah yang mana?

Ketiga, hmm.. Rasanya cukup dua aja. Takut dilempar sepatu baru oleh kalian, hehehe.

Terus, setelah kritikan kamu itu... Emang kamu sendiri gimana, Nda?
Yup, pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Lebaran kali ini, aku mengirimkan ucapan berbeda ke tiap-tiap orang. Sederhana kok isinya. Hanya permintaan maaf dan ucapan selamat lebaran saja. Tentu saja kalimatnya aku sesuaikan dengan siapa penerimanya, aku pernah salah apa, dan.. Tidak lupa, dia pernah salah apa, hahaha. Kalau teman jauh, aku buat tanpa basa-basi. Kalau yang dekat, hmm, aku berani menulis ucapan yang agak nyeleneh. Mumpung sudah akrab, hehe.

Memang capek sih harus mengetik satu persatu untuk setiap nomor. Tapi, aku hanya ingin melakukan sedikit usaha untuk menyampaikan maaf itu. Aku mau mereka menerima ucapan yang memang khusus untuk mereka. Menurut kalian pasti merepotkan, yaa? Hmm, tahu tidak, aku mengirim lebih dari 100 sms ucapan loh! Baterai ponselku sampai habis. Kalau dari efisiensi, tentu caraku ini salah. Tapi, itu kan untuk kalian yang tidak punya waktu. Sedang aku, waktuku banyak. Kesibukan hampir tidak ada. Mungkin ini juga faktor pendukungnya kali yaa? Hahaha.

Nah, untuk kalian semua, pembaca Instan tersayang, karena tak ada nomor telepon, karena belum hapal nama kalian satu persatu, aku massalkan saja yaa ucapannya? ;)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Mohon maaf lahir batin atas segala luka, baik yang masih terasa maupun yang sudah tak ada bekasnya (masih aja ngomongin luka) Jangan ada benci diantara kita, ya? ;)

Salam nastar penuh cinta <3

26 August 2011

Selamat Ulang Tahun, Amanda


Barangkali aku akan membeli kueku sendiri. Menyalakan lilin di atasnya. Dan meniupnya. Sendirian. -21'08

22 Agustus yang lalu, usiaku menginjak 18 tahun.
Hari itu, aku gelisah menunggu siapa orang pertama yang memberiku ucapan selamat. Dan, sekitar pukul 1.30, ponselku berbunyi. Dari bapak. Saat aku menekan tombol jawab, tak ada sapaan yang kudengar. Hanya.... Lantunan lagu Happy Birthday! Aku tidak tahu lagu itu didapat darimana. Dugaanku sih, itu dari kaset milikku saat kecil dulu, hehehe. Air mataku tiba-tiba saja tumpah. Aku ingat beberapa tahun yang lalu saat aku belum tinggal di Jakarta. Saat itu, aku dibangunkan oleh nyanyian kedua orang tuaku. "Selamat ulang tahun, kami ucapkan.. Selamat panjang umur, kita kan doakan..." Bapak asyik menepuk-nepuk tangannya sedang ibu membawa kue ulang tahun untukku. Setelah itu, seperti biasa, mereka mencium kedua pipi dan keningku, lalu melantunkan doa dan harapan yang sungguh selalu membuat aku  meneteskan air mata.

Saat mendengar lantunan lagu itu di ujung telepon, aku merasa sedih karena harusnya aku bisa melihat langsung wajah sumringah orang tuaku. Air mataku makin deras mengalir. Ya, aku tidak menyangka akan mendapat kejutan ini. Kukira, tak akan ada yang spesial. Umm, ternyata orang tuaku romantis!

Pagi harinya, aku mendapat banyak sekali pelukan dari teman-teman Publishing A :) AKU SENANG! 

"Aku pasti dapat bertahan hidup." kataku pada salah satu teman yang sedang memelukku.

"Maksudmu apa?" katanya gelisah. Ya, dia tahu aku baru putus cinta.

"Katanya, untuk bahagia kita butuh 8 pelukan sehari. Dan, lihat! Aku hampir dapat 20!" seruku sambil tertawa.

Kuliah dimulai. Tiba-tiba, Rara yang duduk di sampingku menaruh secarik kertas tepat di atas mejaku. Tuk.. Tuk.. Tuk... Dia mengetuk mejaku agar pandanganku beralih ke meja. Ternyata, kertas itu berisi ucapan selamat ulang tahun dalam berbagai bahasa. Dia baik sekali :)

Siang harinya, aku memutuskan untuk berjalan-jalan dengan 3 sahabatku. Kalian tahu, mengalami putus cinta menjelang hari ulang tahun akan membuat kalian merasa paling malang sedunia. Kupikir, daripada aku terus murung, lebih baik menghabiskan waktu bersama mereka. Sampai di toko buku, ponselku berdering. Sebuah sms masuk. Darinya. Hanya ucapan selamat saja kok. Tapi, setelah membacanya, aku galau seketika. Uh. Tidak lama kemudian, ponselku berdering lagi. Telepon dari kakakku. Kami mengobrol banyak. Hampir setengah jam kurasa.
"Manda, tadi aku ke kosan. Mau ngerjain kamu. Mau ngasih kejutan. Tapi kamunya nggak ada. Jadi aku yang ngerasa dikerjain.... Hiks.. Yaudah aku titip kado sama tante aja jadinya..."
"Iya, jam sebelas malem tuh aku inget mau ucapin ultah ke kamu. Yaudah aku BBMan sampai tengah malem biar nggak ngantuk. Eh, habis itu, aku malah lupa. Aku ngantuk, yaudah tidur deh. Nggak inget niat ngucapin ke kamu huhuhu..."
"Jangan galau lagi yaa. Nulis yang bagus-bagus makanya, jangan sedih-sedih melulu biar nggak sedih beneran."
Itulah beberapa bagian yang aku ingat dari percakapan kami.

Sambil menunggu adzan magrib, aku dan ketiga sahabatku mulai mencari obrolan. Oya, aku lupa cerita. Satu hari setelah aku putus, Tere, juga putus dengan pacarnya. Dan, tengah malamnya, Gita, juga putus. Ooo. ini bukan karena aku kan? Kalau Nisa... Dia sudah lebih dulu putus dengan pacarnya. Sekitar 4 bulan yang lalu mungkin. Sebagai korban kePUTUSan, akhirnya muncullah obrolan ini,

"Gita, kamu waktu putus, ngomongnya gimana?" tanyaku.

"Oh kamu mau putus? Oke, kita selesai!" jawab Gita, menirukan perkataan mantan pacarnya. "Kalo lo, Ter?"

"Kita putus aja..." jawab Tere. Benar-benar tidak bersemangat untuk membahasnya.

"Oh, kalo aku sih... Mungkin lebih baik kita pisah dulu.. Hahaha.." kataku, memaksakan tertawa. "Kalo Nisa, gimana?" tanyaku.

"Umm, aku... Dia sih yang tanya, 'Mau putus?' terus aku bilang iya.."

"Gila gampang banget..."

"Ih, asyik banget sih itu putusnya..."

"YA AMPUNNNN!"
Kami bertiga agak kaget mendengar jawaban Nisa.

"Pernah nggak sih kalian ngerasa udah bulet sama suatu keputusan... Tapi setelah itu.. Hanya dengan menerima sms darinya keputusan itu langsung samar lagi? Yang tadinya kalian yakin kalau dia itu jahat, tapi tiba-tiba kalian bilang kalau dia nggak sejahat itu kok. Dia tuh nggak niat kayak gitu.. Atau.. Yah, you know, semacam pembelaan..." kataku sambil mengangkat bahu.

Mereka bertiga tersenyum. Mengiyakan. 

"Rasanya tuh masih berat banget..." kata Tere tiba-tiba. "Baru 2 minggu, udah putus. Bayangin..."

"Lo mending, Ter, 2 minggu. Gue 2 tahun, putus gitu aja karena masalah sepele..." timpal Gita.

Saat itu aku tengah membaca novelku. Dengan tidak mengalihkan mataku dari novel tersebut, aku menimpali mereka berdua, "Tapi paling nggak, kalian nggak putus pas mau ultah kan?"

Seketika keduanya diam. Aku tersenyum samar. Merasa menang. Tuh, kan, aku yang paling ngenes nasibnya.. batinku, bangga. *eh

Selesai buka puasa dengan mereka, aku langsung pulang ke kosanku. Saat itu sudah pukul tujuh malam. Tante, pemilik kos, langsung menyambut aku dengan ucapan selamat ulang tahun, begitupun om. Setelah itu, mereka memberikan hadiah yang dititipkan kakakku. Hhhh, aku hampir menangis. Aku suka hadiahnya. Sebuah tas.

Keesokan harinya, Gono, temanku di kelas sebelah, main ke kelasku.

"Mandaaaaa...." sapanya sambil berjalan ke arahku.

"Oy, Gono!"

"Happy birthday..." katanya sambil mengulurkan tangan. Aku menjabat tangannya yang dingin dan jauh lebih besar dari tanganku.

"Ah, makasih Gono.."
Ternyata, masih ada ucapan juga meskipun sudah lewat harinya.

Lalu, saat kuliah dimulai, dosenku menjelaskan mengenai kalimat efektif.

"Kucing menangis. Secara ejaan dia benar.. Tapi apa dia adalah kalimat?" tanyanya.

"Bukaaaan" jawab kami malas.

"Iya. Secara logika, mana mungkin kucing menangis." kata dosenku lagi.

"Tapi kan kucing punya hati, Bu...." kata Tere, lirih.

"Tapi kan kucingnya baru putus, Bu..." sambungku yang langsung diikuti tatapan mata plis-deh-nda-jangan-bikin-galau oleh ketiga sahabatku.

Nah, sore harinya, ada acara buka bersama dengan keluarga besar kosanku hihi. Ada sebelas orang. Dan, ya ampun... Masih ada kejutan ternyata. Saat perjalanan pulang, beberapa kakak itu memberi aku ucapan lagi. Dan... 2 dari mereka memberiku tarian khusus. Bisa bayangkan rasanya meliat orang menari untukmu di trotoar yang ramai orang berlalu-lalang? Rasanya, lebih dari bahagia. Kami tertawa sepanjang jalan.
Sesungguhnya rasa bahagia itu sudah kita miliki. Tersimpan dalam hati kita. Pilihannya adalah mau atau tidak kita memakainya.

Untuk semua orang yang menyayangiku, teyimakasih :) Aku juga sayang kalian. Untuk yang belum mau menyayangiku, bolehkah aku tetap menyayangi kalian? Ini ulang tahun terbaik :) Alhamdulillah. Mana pantas merasa paling malang kalau sudah diberi kebahagiaan sebanyak ini!

Aku Amanda. Perempuan. Single. Delapan belas tahun.

31 July 2011

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa


Selamat siang :)
Sudahkah kalian minum es jeruk hari ini? hehehe besok sudah nggak bisa loh minum es siang-siang. Semoga masih cukup waktu untuk kita menjalankan ibadah puasa, ya. Kemarin, saat hendak berangkat ke kantor, aku sempat melihat sebuah spanduk bertuliskan, "Akankah ini menjadi Ramadhan terakhirku?" DEG! Aku langsung merasa diingatkan. Yah, naif memang, aku berpikir kalau nanti nanti toh masih ketemu Ramadhan lagi dan pikiran seperti itu sungguh nggak baik. Kenapa? Karena pikiran itu aku munculkan saat aku menomorduakan ibadahku. Nggak baik, bukan?

Niatku sih, aku harus bisa meningkatkan kualitas diri di Ramadhan tahun ini. Rugi sekali kan kalau Ramadhan hanya membuat kita menahan lapar dan haus saja? Aku mau lebih dari itu. Tak seperti Ramadhan lalu yang malas-malasan. Sekali lagi, kita nggak pernah tahu apakah tahun depan kita masih diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan. Selain itu, Ramadhan ini semoga bisa jadi awal yang tepat untuk aku latihan melupakan, memaafkan, dan merelakan hehe. Ada satu orang yang kehadirannya masih mengganjal hatiku sampai saat ini. Kalian tahu, orang ini tak pernah berbuat salah padaku. Hanya saja kehadirannya membuatku takut terkadang. Ya, takut kehilangan seseorang lainnya. Kehadirannya membuat aku merasa dinomorduakan. Nah, aku nggak mau terlalu lama merasakan yang seperti itu. Lagi pula aku takut kalau perasaan itu dipelihara, lama-lama akan menjadi benci. Kan kata mama, benci sama orang itu nggak baik hihi.

Karena tinggal beberapa jam lagi kita mulai berpuasa, maka aku sekeluarga mohon maaf atas segala salah baik kata maupun sikap, ya, Pembaca Instan. Mari kita sambut Ramadhan dengan sukacita. Jangan lupa mandi dan membersihkan diri, yaa. Dan yang tak kalah penting, jangan lupa berbagi di bulan yang baik ini, HAPPINESS [is] ONLY REAL WHEN SHARED kalau kata Bang Jon Krakauer hehehe. Selamat puasa bagi yang menjalankannya :) Ingat, selama puasa, tak boleh ada benci apalagi dusta diantara kita.
Pict from here


P.S.: Dari sekian giveaway yang aku ikutin, masa yaa masa nggak ada satu pun yang aku dapet. Sedih :( ngejar UUK nggak dapet, mau adopsi nggak dapet, main ke desa boneka malah nyasar. Fiuh.

24 July 2011

Yang Pergi Pukul Tujuh Pagi


"Nduk, bangun. Bu haji udah nggak ada.. Cepet bangun kalau mau ikut ngelayat.."

Aku membuka mataku mendengar suara yang samar-samar itu. Kemudian, menuruni anak tangga satu persatu. Baru tiga langkah, mataku menangkap sorot mata ibu di bawah. Ibu pasti habis menangis. Jadi yang aku dengar tadi.....

Bu haji. Begitu orang biasa memanggilnya. Sebenarnya, dia adalah tetanggaku. Juga rekan kerja Bapak, hampir 5 tahun kalau tidak salah. Kedekatan bapak dengan beliau sudah seperti anak dengan ibunya, tentu sudah barang pasti aku dan ibu pun dekat dengan beliau. Yah, sudah seperti nenek sendiri bagiku. Bapak bilang, semalam bapak bermimpi tentang beliau, nenekku. Di mimpi itu, nenek seperti biasa, menemui bapak sambil tersenyum, bahagia sekali sepertinya. Bapak bilang, nenek juga mengatakan sesuatu, tapi sayang, tak terekam oleh ingatan bapak. Mungkin nenek pamit, yaa...

Mendengar cerita bapak, aku tenang. Nenek bahagia, persis seperti raut yang aku dapati tadi, saat membacakan yasin untuk nenek. Cantik, sungguh. Tidak ada kesan menyeramkan seperti yang aku bayangkan. Aku tak bisa menahan air mataku. Mana nenek yang biasa menyapaku? Kenapa nenek diam saja?  Aku mengamati benar-benar. Berharap masih ada tarikan dan hembusan napas, masih berpikir nenek hanya tertidur. Tapi, tidak. Tak ada lagi napas. Aku tak tahu bagaimana caranya Tuhan mengambil napas itu. Aku tidak tahu di mana nenek sekarang. Dan hal itu membuatku lagi-lagi basah air mata. Bacaan yasinku terhenti sesaat karena penglihatanku dikaburkan air yang menggenang di mataku. Kenapa aku masih nangis kayak gini? Rasanya curang, ya... Nenek bisa liat aku terus, tapi aku nggak bisa liat nenek lagi :'(

Hhhh. Aku bakal kangen. Tidak ada lagi orang yang datang ke rumah hanya untuk menanyakan kapan aku pulang, setiap hari, setiap pagi. Tidak ada lagi yang nasehatnya selalu sukses membuatku menangis, "Belajar yang benar. Kasihan bapak ibumu itu, mereka kerja udah nggak peduli capek, nggak peduli sakit. Di Jakarta kalau main hati-hati. Temenan hati-hati. Jaga diri yang bener, yaa."

Aku bersyukur bisa melihat nenek untuk terakhir kalinya. Jujur, baru itu aku duduk di samping orang yang sudah tidak ada, hanya tertinggal raga yang memucat. Rasanya... Aku takut. Aku takut kalau nanti semua orang yang aku sayang juga pergi di saat aku belum siap. Aku tidak mau sendirian. Meskipun, aku tahu, aku tidak akan pernah siap. Dan, tak ada orang yang akan siap sendirian.

Nek, baik-baik, ya. Uh, aku nggak bisa nakal lagi, nih, nenek pasti lihatin aku terus. Tapi nggak papa, aku suka. Aku mau nenek terus melihat aku, melihat perjuanganku, sampai aku berhasil. Kecup sayang penuh doa. Aku sayang nenek.

Mohon doanya, ya, Pembaca Instan. Buat menemani nenek di sana :')

20 July 2011

Dear Smokers

Dear Smokers, please get a plastic bag and cover yourself whenever you want to start smoking to enable you to enjoy the smoke 100% by yourself. I don't want any percentage of your smoke nor do my friends who don't smoke. Don't kill me if you want to kill yourself.


Regards, Non-smokers.
P.S.: Copy and paste this message at your profile to support the "keep smoke away" campaign.
sumber: Ninda

Nostalgia Masa Muda


Duh, judulnya kurang oke, ya? Hihi posting kali ini aku mau pamer foto-foto masa muda. Tumben? Iya, ini dalam rangka ikutan giveaway. Habis hadiahnya novel. Mana bisa nolak. Oya, terima kasih buat Bapak dan Ibu, foto-foto yang kalian ambil saat aku kecil sampai sekarang masih kerasa manfaatnya, loh! Terima kasih juga buat Mbak Fanny, tuan rumah giveaway ini. Mau ikut? Bingung gimana caranya? Yuk, langsung klik di sini. Oke, ini dia foto-fotonya, *pasang lagu Terbaik Bagimu*
Foto pertama,
Teringat masa kecilku 
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung

Foto kedua,
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
Foto ketiga,
Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Foto keempat,
Yang mungkin kulakukan dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak
Foto kelima,
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Foto keenam,
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu
Foto ketujuh,
Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Kurindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati


Wah, jadi terputar lagi nih beberapa memori masa lalu. Gimana? Cantik, kan? Hihi.. Tapi seperti orang bijak bilang, "Kecantikan itu tidak bertahan lama" huhu sedih, yaa? Masak baru tujuh belas tahun, cantiknya sukses memudar? Eh, tapi kalau urusan hati, pengecualian. Makin tua, makin cantik kok, amin hihi.

Hmm, di masa itu, mungkin bukan aku belum punya masalah, yaa, tapi orang tuaku masih selalu menyelesaikan masalah-masalahku. Kenapa? Karena mereka tidak mau melihat aku menangis karena masalahku itu. Nah, bedanya, kalau sekarang, aku bahkan tidak mau mereka tahu aku menangis karena masalahku. Rasanya, seperti akan menjadi beban untuk mereka. Kadang, aku menceritakan masalah-masalahku tetap dengan ceria, dengan bersemangat, tidak mau mereka berpikir aku keberatan menghadapinya. Tuh, aku anak baik, ya? Hehe nggak boleh protes, loh. Semoga pesona foto-foto ini bisa membuat Mbak Fanny terpikat deh ;) Go Manda Go Manda Gooooo.

13 July 2011

Pohon Apel Itu, Masihkah di Tempatnya?


Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel itu juga sangat mencintai anak lelaki itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi, " jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

"Ayo, bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan dan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

"Ayo bermain-main lagi denganku," kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk  pesiar?"

"Aduh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkaannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk menggigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil mentikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring dipelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
***
Kisah di atas adalah kisah kita semua. Pohon apel itu ibarat orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana utuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
***
Penggalan cerita di atas kutemukan di buku Belajar dengan Hati Nurani yang dipinjamkan Mas Ryan, teman sekantorkuKalimat demi kalimatnya tak sadar membuat mataku berkaca-kaca. Ya, aku memang tipe orang yang gampang hanyut oleh sebuah cerita. Lalu aku meminta temanku untuk ikut membacanya. "Kok aku nggak nangis deh bacanya? Nih," ucap temanku sambil mengembalikan buku tersebut padaku.
Barangkali, inilah alasanku menangis. Aku membaca cerita itu saat sedang kangen-kangennya dengan orang tuaku di rumah. Sudah 2 minggu aku tidak pulang. Aku membacanya sambil mengingat apa yang sudah kulakukan. Keegoisanku. Betapa selama mereka menelpon menanyakan keadaanku, aku selalu sibuk bercerita, kadang mengeluh, seperti ingin orang tuaku ikut merasakan bebanku. Padahal, tanpa itu pun, aku tahu, mereka selalu mengkhawatirkanku. Dengan aku jauh dari mereka saja, aku sudah membebani pikiran mereka setiap saat. Ibu pernah bilang, katanya kalau aku belum membalas sms, apalagi sampai larut malam, ibu pasti khawatir. Yang ada di pikiran Ibu, apakah terjadi sesuatu, ataukah aku sudah lelap tidur sampai tidak membalas?
Dulu, di semester awal, Ibu pernah memarahiku lewat sms karena aku tidak membalas smsnya. Saat itu, kondisinya aku sudah membalasnya, hanya saja sms itu belum sampai pada Ibu. Akhirnya kami malah bertengkar. Aku ikut marah. Namun, setelah aku mengirimkan sms yang agak jahat itu, hatiku jadi tak karuan. Aku menangis membayangkan reaksi ibu ketika membacanya. Benar saja. Ibu sedih karena ulahku. Aku bisa merasakan kesedihan itu dari isi smsnya. Aku cepat-cepat minta maaf, meski kalian tahu, untuk mengucapkan kata-kata manis seperti "Maaf, Ibu. Aku sayang Ibu. Tolong jangan sedih lagi. Aku tak bermaksud mengatakannya." Aku tidak bisa. Aku hanya bilang, "Maaf Ibu, aku emosi tadi. Sebagai permintaan maaf, hari ini aku pulang. Ibu masak yang enak, ya!" begitu kataku. Dan, ibuku langsung lupa dengan masalah tadi. Ibu bilang, "Kamu pulang hari ini? Apa nanti tidak kemalaman sampainya? Mau dimasakkan apa?" Aku menangis membacanya.
Lalu kemarin malam, Ibu dan Bapak menelepon. Anehnya, di awal pembicaraan mereka menanyakan hal yang sama. "Kamu sehat, kan? Beneran nggak lagi sakit, kan?" Aku malah tertawa mendengarnya. Aku menanyakan ada apa, tapi mereka bilang, mereka hanya khawatir karena 4 hari berturut-turut aku terus sibuk sejak pagi untuk liputan dan tidur menjelang pagi karena menyusun laporannya. Mereka tidak percaya dengan kesibukkan itu, aku masih baik-baik saja. Kemudian, aku menceritakan kabar baik yang aku dapat. Ya, ternyata libur semesterku diperpanjang. Tidak terlalu lama, sih, hanya beberapa hari. Lalu, aku lagi-lagi mengeluh, "Yah, berarti nanti aku ulang tahun di kosan, Bu? Kan tanggal 22 hari Senin. Masa mau dirayain hari Sabtu atau Minggunya, sih? Kecepetan." Saat itu, ibuku bilang, tak apa, yang penting kan bisa dirayakan bersama keluarga. Mendengar ibu berkata begitu, aku langsung bilang aku mau pakai kue tahun ini. Ibu hanya tertawa sambil mengiyakan.
Kalau diingat-ingat, aku hanya membicarakan diriku terus-menerus. Aku mengeluh inilah, itulah. Tapi, sepertinya tak pernah aku menanyakan pada orang tuaku mereka sedang ada masalah apa. Untungnya, mereka tak pernah mengeluhkan keluhanku.
Untuk kedua orang tuaku. Waktu yang hilang karena aku yang memaksakan kuliah di tempat yang jauh dari kalian selalu  menjadi cambukku untuk terus berjuang. Aku tahu, kesuksesanku adalah saputangan yang paling tepat untuk keringat kalian.
Untuk seorang anak di sana, kamu tahu, sekalipun tidak melahirkanmu, dia telah mengurus kamu sampai kamu sebesar sekarang. Dia membiayaimu dari mulai kamu membutuhkan sampai kamu sudah tidak butuh sekalipun, kebutuhanmu tetap diurusnya, kamu pasti tahu itu. Ingatkah kamu? Saat kamu sakit, dia akan mencarikan kamu dokter terbaik, kamu cepat sembuh, hanya itu pertimbangannya. Saat ini, dia, ibumu, sakit. Masih tegakah kamu menyimpan uang yang dulu berasal darinya, daripada menggunakannya untuk kesembuhannya? Tegakah? Di luar sana, banyak orang yang menyesali ketidakmampuannya membiayai orang yang dikasihi. Jangan sampai kamu jadi orang yang menyesal karena ketidakmauanmu membiayai orang yang mengasihimu.
Dan terakhir, untuk kalian, Pembaca Instan, aku bukan mau sok menggurui, kalian bisa baca dari ceritaku, aku belumlah menjadi anak baik. Tapi boleh, kan, aku meminta? Sederhana saja, kalau kalian punya waktu luang, pikirkanlah mereka, orang tua kalian. Tak perlu mengajak mereka jalan-jalan atau berbelanja. Cukup berada di sisi mereka. Itu lebih dari cukup.
Ah, aku tambah kangen. Sesekali aku ingin pergi kuliah lalu pulang ke rumah. Meminum teh hangat buatan Ibu sambil bercerita banyak hal yang terjadi hari itu, seperti saat aku sekolah dulu. Aku ingin begadang mengerjakan tugas kuliah dengan ditemani mereka. Setua apapun aku nanti, aku tetap ingin bermain dengan mereka. Aku mau bercanda dengan Bapak, saling mengejek dan kalau aku kalah, aku berteriak minta bantuan Ibu. Sampai kapanpun, aku mau menjadi anak yang terus bermain dengan pohon apelnya. Sekalipun aku tak bisa memanjat.

26 June 2011

INFO: ERLANGGA FAIR 2011, CITOS 7-10 JULI



Erlangga Fair adalah ajang pameran eksklusif yang diselenggarakan oleh PT Penerbit Erlangga sebagai salah satu penerbit terbesar di tanah air dalam rangka turut serta menumbuhkan minat baca masyarakat dan mencerdaskan bangsa. Erlangga Fair telah dilaksanakan dua tahun berturut-turut. Pada tahun 2009 dilaksanakan di Mall Pejaten Village dan tahun 2010 dilaksanakan di Cilandak Town Square Jakarta.

Program acara yang akan diselenggarakan meliputi acara yang akan mengikutsertakan partisipasi anak dan orang tua. Akan ada Diego si petualang, Po si Kungfu Panda, dan Thomas si kereta api. Gimana, penasaran, kan? Eits, tidak hanya itu, akan ada pengumuman pemenang Teacher of the Year dan juara Read a Story tahun ini. Oya, ada meet and greet with Anang & Ashanty juga, loh.

Nah, siap-siap deh, ajak keluarga ke ERLANGGA FAMILY FAIR 2011 di CITOS tanggal 7-10 Juli 2011. Acara yang pas buat mengisi liburan. Saya juga akan hadir di sana loh, hehe.
Catat agenda acara Erlangga Family Fair 2011 berikut ini :
Klik gambar agar lebih jelas.

Untuk info lebih lanjut silakan kunjungi fanpage Erlangga Fair atau follow twitternya Buku Erlangga untuk mengikuti kuis-kuis berhadiah menarik.


Sebuah Cerita


Malam itu, pacar saya bilang dia masih belum bisa melupakan masa lalunya. Jangan tanya bagaimana perasaan saya. Meski sudah menduga sejak lama, saya tak bisa memungkiri kalau rasa sakitnya membuat saya kehilangan selera makan. Saya putuskan untuk membiarkan dia memilih masa lalunya. Saya mau dia bahagia, sekalipun pilihannya akan berat untuk saya. Saya terus meyakinkan dia. Saya bilang, kalau memang kita mencintai seseorang, bukan melupakan caranya. Bukan juga dengan melepaskan orang yang kita cintai. Mencintai itu baru berarti kalau kita berani memperjuangkan. Kalau memang cinta, ya, kejar, pertahankan.

Yang saya lupa adalah disaat yang bersamaan, saya tengah melepaskan apa yang saya cintai. Menganggap kalau kebahagiaan dialah yang harus saya perjuangkan. Bukan cinta saya. 

Dalam bayangan saya, kami akan berpisah malam itu. Tapi ternyata tidak, dia meminta saya bertahan. Tentang masa lalunya, dia memilih untuk melepaskannya.


23 June 2011

Contest Smiley

Banner Contest
Cemans-cemans, ada kontes blog looooooh. Kontes ini diadakan oleh blogger nan unyu bernama Cho, ayook kita sapa dulu *hellooooooo Cho :)* Nah, langsung aja, syarat-syarat kontesnya adalah:
  • Wajib Follow blog Cho 
  • Pasang banner contest
  • Siapa saja boleh ikut contest, selagi di memenuhi syarat2 contest
  • Buat 1 entry berjudul "Contest Smiley"
  • Contest akan batal dengan sendirinya jika contestant kurang dari 5 orang  
"Hadiahnya apa, sih?"
 Haha pokoknya susah ditolak deh buat kalian pecinta keunyuan. Ini dia hadiahnya:
  •  1 Set sidebar image kawaii buatan cho
  •  2 Header Tranparent
  •  Award Special
  •  2 Followers
"Aaaaaaah seunyu apa emangnya? Kok belum kebayang, ya, hadiahnya kayak apa?"
Oke, aku sih deh penampakannya,
Ini baru AWARD dan Sidebar image loh, belum headernya!
Nah, gimana? Interested? Yuk, join :) Lumayan looooooh. Kapan lagi kan dapet paket hadiah unyu kayak gitu ;)

17 June 2011

Movie: The King's Speech

Baru saja mampir ke blognya Bang Aul dan mendapati misi terselubung di sana *halah. Oke, Bang, misi diterima.

Film yang aku suka adalah The King's Speech. Film ini bercerita tentang seorang raja yang gagap dalam berpidato. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya. Sebagai seorang raja, banyak kesempatan yang mengharuskan dia berpidato untuk rakyatnya. Banyak cara sudah ditempuh untuk mengobati kegagapannya itu, tapi tak ada satu pun yang berhasil. Istri sang raja akhirnya mendapat rekomendasi untuk menemui salah seorang therapist yang dikenal keberhasilannya dalam menyembuhkan seseorang dari kesulitan berbicara. Awalnya sang raja menolak karena dia sudah putus harapan. Baginya kegagapannya itu tidak akan bisa disembuhkan. Setelah dibujuk oleh istrinya akhirnya sang raja mau menemui sang therapist. Sang therapist melakukan pengobatan dengan cara yang tidak biasa. Sang raja sempat meragukan caranya itu. Setelah sekian lama melakukan latihan, tibalah saat sang raja untuk berpidato. Sang raja mulai khawatir, takut-takut kegagapannya akan terulang kembali. Tapi therapist itu terus meyakinkan sang raja, ia bahkan menghias tempat pidato yang akan ditempati sang raja menjadi mirip dengan tempat mereka latihan. Therapist itu juga sudah memberi tanda jeda di naskah pidato yang akan dibaca sang raja untuk memudahkannya. Beberapa detik berlalu, sang raja masih belum mulai bicara. Therapist itu lalu meminta sang raja untuk membacakan pidatonya untuk dia, anggap saja seperti saat latihan, mereka bicara, antarteman. Setelah diyakinkan seperti itu, sang raja mulai membacakan pidatonya dan ia berhasil membacanya dengan lancar sampai akhir.

Yang membuatku suka pada film ini adalah pesan yang coba diangkatnya. Terkadang perasaan tidak mampu itulah yang malah kita tanamkan pada diri kita. Kita malah menepis keberanian untuk mencoba. Ya, tidak bisa dipungkiri, terkadang halangan paling berat untuk meraih mimpi kita adalah diri kita sendiri. Sang raja terus-menerus menanamkan keyakinan dalam dirinya bahwa ia tak bisa berbuat apa-apa. Kegagapannya akan terus ada, tak bisa disembuhkan. Di saat seperti itu, lingkungan malah menatap kecewa terhadapnya. Dia semakin tidak percaya diri. Tapi setelah bersama therapist itu, kegagapannya sembuh. Kenapa? Karena therapist itu tak pernah berhenti meyakinkan dirinya. Therapist itu terus menggali keberanian yang selama ini ditepiskannya. Dan yang paling penting, di saat semua orang menatap tidak  percaya terhadapnya, therapist itu menjadi satu-satunya orang yang mempercayainya. Keyakinan. Ya, di saat keyakinan mulai terkikis dalam diri seseorang, butuh keyakinan yang datangnya dari orang lain untuk membangkitkan orang itu lagi. Aku yakin, saat orang telah menemukan keyakinannya lagi, ia  tak akan mau mengecewakan orang yang telah membantunya menemukan keyakinan itu. Barangkali itu juga yang membuat sang raja akhirnya bisa berbicara lancar dan mengatasi kegagapannya. 
Saat kita kelelahan berjuang untuk diri sendiri. Mulailah berjuang untuk orang lain. -Amanda-

15 June 2011

Bagaimana bila orang yang kamu cintai mencintaimu sambil mencintai orang lain?

12 June 2011

Yang baju merah itu namanya Fara. Temen lesku dulu jamannya SMA. Ini first singlenya mereka. Aku sih suka banget. Kalian gimana? http://www.emocutez.com


8 June 2011

Lihat Telapak Tanganmu. SEKARANG!


Kali ini aku mau coba bahas soal tangan. Hands. Anggota badan dari siku sampai ke ujung jari atau dari pergelangan sampai ujung jari. Tumben? Yup, awalnya karena aku baca note guru les aku di facebook, judulnya WHAT'S IN YOUR HANDS? Pas baca note itu, aku memang sedang dalam keadaan yang benar-benar down. Sindrom ngebanding-bandinginnya lagi muncul. Entah gimana awalnya, yang jelas, saat itu aku merasa tidak memiliki apapun dan seseorang di sana, yang selalu muncul saat aku lagi down, terlihat semakin sempurna. Ya, aku mulai membuang waktu dengan mempertanyakan kenapa dia bisa tapi aku nggak. Nah, setelah baca note itu, aku tahu, aku salah besar. Percuma aja aku membandingkan kemampuanku dengan dia, barangkali dia bisa menegakkan benang basah, dia juga bisa pidato sambil salto, tapi yang jelas dia nggak bisa jadi aku. Ya, kita nggak bisa sukses di jalan orang lain. Yang ada kita tergelincir karena nggak tahu bagaimana medannya. Jadi, aku mau stop mengukur kesuksesanku dengan dia. 

Aku sering membandingkan hidup ini dengan film. Kita punya skenario masing-masing. Kalau mau jadi aktor yang baik, ya perankanlah bagian kita itu dengan baik. Semakin kita mencoba untuk mengambil bagian orang lain, saat itulah kita akan merasa semakin tidak mampu, dan pada akhirnya menyerah. Bagian orang lain tidak dapat, bagian kita pun terbengkalai. Apa itu sukses? Tentu nggak. Makanya aku bilang, kita nggak bisa sukses di jalan orang lain. Sukseskanlah jalananmu sendiri ;)

Eh, terus apa hubungannya sama tangan, Nda?
Hubungannya adalah kita harus tahu benar apa yang ada di tangan kita. Kenali apa yang sudah kita miliki sekarang. Daripada terus-terusan membiarkan tangan kita kelelahan meraih apa yang tidak dapat kita jangkau, bukankah lebih baik menggunakannya untuk menggenggam erat-erat apa yang sudah kita dapatkan? Menurut aku, pemikiran seperti ini bisa membuat kita lebih bersyukur. Lebih menghargai hidup kita. Ya, orang lain barangkali hidupnya terlihat menyenangkan, tapi, ya, sudah, toh dalam beberapa hal, hidup kita jauh lebih menyenangkan, bukan?

2 June 2011

Blog Makeover

OMG, I spent nine hours for this new look :D
I change a lot of things, the background, chatbox, traffic feed, signature, and also my cursor. Hoho. It looks better now. Aaah, so comfort. I love the template but dont know how long it will because I get bored easily.
So, what do you think? "Wow, what a makeover, your blog looks great!"
"Really? Thank you so much.  I'm super happy. That meant a lot! Huhu.. Tissue paper please."
Haha ok, ok, I know, this conversation sounds jijay, right? 
totally melancholic.
Ups, it's time to pay back my sleep debt, btw.
let's gooooooooooo. hoammmm I'm so tired rite now.http://www.emocutez.com

29 May 2011

A Crazy Little Thing Called Love (2)

Yup, it’s been a while since I watched the romantic Thai movie called Crazy Little Thing Called Love. My roommate recommended me this movie. I think its based on the story of everyone: doing a lot of crazy things to get Your Love's attention. 
The main character, Nam, is played by Baifern Pimchanok. She’s so ugly in the beginning of the movie: dark skin, a terrible haircut, glasses and braces.
Shone’s character is played by Mario Maurer. He’s cheerful, kind, and sooooo charming http://www.emocutez.com Btw, the other characters played their parts well too. Nam's bestfriends are awesome. They are extremely supportive. I love this movie cause the blend of comedy, romantic and drama is so perfect! There are so many things which sent me back to those days when i was junior high. 
Shone touched Nam's hand for the first time 
I cried a lot while watching this part when Shone went to his room and open a photobook of Nam’s pictures. See flashbacks of his true feelings of love to Nam. As it turned out he also secretly loves her. Uh, soooo sweet and romantic. 



The feeling of being in love for me is such a wonderful feeling. Whether the one you love, loves you too or not, it's still wonderful.

I would rate this movie 4.5 out of 5 stars.  Definitely recommend! 

18 May 2011

Pendewasaan Tahap 8

Segalanya akan istimewa bila berada di tangan yang tepat. Termasuk kamu.

Pendewasaan Tahap 7

Ketidakpedulian itu bisa dibuat-buat. Tapi kepedulian datang dari hati.

16 May 2011

Pendewasaan Tahap 6

Aku ingin tahu. Kepuasan seperti apakah yang didapat dari menyakiti orang lain? Adakah kepuasan itu adiktif?

15 May 2011

Pendewasaan Tahap 5

Terkadang aku tertawa bukan karena aku bahagia, tapi karena aku menginginkannya. Bukankah suasana hati memang harus diciptakan?