Bloglovin Google+ Facebook Twitter Image Map
Showing posts with label Dinata Punya Cerita. Show all posts
Showing posts with label Dinata Punya Cerita. Show all posts

26 August 2011

Selamat Ulang Tahun, Amanda


Barangkali aku akan membeli kueku sendiri. Menyalakan lilin di atasnya. Dan meniupnya. Sendirian. -21'08

22 Agustus yang lalu, usiaku menginjak 18 tahun.
Hari itu, aku gelisah menunggu siapa orang pertama yang memberiku ucapan selamat. Dan, sekitar pukul 1.30, ponselku berbunyi. Dari bapak. Saat aku menekan tombol jawab, tak ada sapaan yang kudengar. Hanya.... Lantunan lagu Happy Birthday! Aku tidak tahu lagu itu didapat darimana. Dugaanku sih, itu dari kaset milikku saat kecil dulu, hehehe. Air mataku tiba-tiba saja tumpah. Aku ingat beberapa tahun yang lalu saat aku belum tinggal di Jakarta. Saat itu, aku dibangunkan oleh nyanyian kedua orang tuaku. "Selamat ulang tahun, kami ucapkan.. Selamat panjang umur, kita kan doakan..." Bapak asyik menepuk-nepuk tangannya sedang ibu membawa kue ulang tahun untukku. Setelah itu, seperti biasa, mereka mencium kedua pipi dan keningku, lalu melantunkan doa dan harapan yang sungguh selalu membuat aku  meneteskan air mata.

Saat mendengar lantunan lagu itu di ujung telepon, aku merasa sedih karena harusnya aku bisa melihat langsung wajah sumringah orang tuaku. Air mataku makin deras mengalir. Ya, aku tidak menyangka akan mendapat kejutan ini. Kukira, tak akan ada yang spesial. Umm, ternyata orang tuaku romantis!

Pagi harinya, aku mendapat banyak sekali pelukan dari teman-teman Publishing A :) AKU SENANG! 

"Aku pasti dapat bertahan hidup." kataku pada salah satu teman yang sedang memelukku.

"Maksudmu apa?" katanya gelisah. Ya, dia tahu aku baru putus cinta.

"Katanya, untuk bahagia kita butuh 8 pelukan sehari. Dan, lihat! Aku hampir dapat 20!" seruku sambil tertawa.

Kuliah dimulai. Tiba-tiba, Rara yang duduk di sampingku menaruh secarik kertas tepat di atas mejaku. Tuk.. Tuk.. Tuk... Dia mengetuk mejaku agar pandanganku beralih ke meja. Ternyata, kertas itu berisi ucapan selamat ulang tahun dalam berbagai bahasa. Dia baik sekali :)

Siang harinya, aku memutuskan untuk berjalan-jalan dengan 3 sahabatku. Kalian tahu, mengalami putus cinta menjelang hari ulang tahun akan membuat kalian merasa paling malang sedunia. Kupikir, daripada aku terus murung, lebih baik menghabiskan waktu bersama mereka. Sampai di toko buku, ponselku berdering. Sebuah sms masuk. Darinya. Hanya ucapan selamat saja kok. Tapi, setelah membacanya, aku galau seketika. Uh. Tidak lama kemudian, ponselku berdering lagi. Telepon dari kakakku. Kami mengobrol banyak. Hampir setengah jam kurasa.
"Manda, tadi aku ke kosan. Mau ngerjain kamu. Mau ngasih kejutan. Tapi kamunya nggak ada. Jadi aku yang ngerasa dikerjain.... Hiks.. Yaudah aku titip kado sama tante aja jadinya..."
"Iya, jam sebelas malem tuh aku inget mau ucapin ultah ke kamu. Yaudah aku BBMan sampai tengah malem biar nggak ngantuk. Eh, habis itu, aku malah lupa. Aku ngantuk, yaudah tidur deh. Nggak inget niat ngucapin ke kamu huhuhu..."
"Jangan galau lagi yaa. Nulis yang bagus-bagus makanya, jangan sedih-sedih melulu biar nggak sedih beneran."
Itulah beberapa bagian yang aku ingat dari percakapan kami.

Sambil menunggu adzan magrib, aku dan ketiga sahabatku mulai mencari obrolan. Oya, aku lupa cerita. Satu hari setelah aku putus, Tere, juga putus dengan pacarnya. Dan, tengah malamnya, Gita, juga putus. Ooo. ini bukan karena aku kan? Kalau Nisa... Dia sudah lebih dulu putus dengan pacarnya. Sekitar 4 bulan yang lalu mungkin. Sebagai korban kePUTUSan, akhirnya muncullah obrolan ini,

"Gita, kamu waktu putus, ngomongnya gimana?" tanyaku.

"Oh kamu mau putus? Oke, kita selesai!" jawab Gita, menirukan perkataan mantan pacarnya. "Kalo lo, Ter?"

"Kita putus aja..." jawab Tere. Benar-benar tidak bersemangat untuk membahasnya.

"Oh, kalo aku sih... Mungkin lebih baik kita pisah dulu.. Hahaha.." kataku, memaksakan tertawa. "Kalo Nisa, gimana?" tanyaku.

"Umm, aku... Dia sih yang tanya, 'Mau putus?' terus aku bilang iya.."

"Gila gampang banget..."

"Ih, asyik banget sih itu putusnya..."

"YA AMPUNNNN!"
Kami bertiga agak kaget mendengar jawaban Nisa.

"Pernah nggak sih kalian ngerasa udah bulet sama suatu keputusan... Tapi setelah itu.. Hanya dengan menerima sms darinya keputusan itu langsung samar lagi? Yang tadinya kalian yakin kalau dia itu jahat, tapi tiba-tiba kalian bilang kalau dia nggak sejahat itu kok. Dia tuh nggak niat kayak gitu.. Atau.. Yah, you know, semacam pembelaan..." kataku sambil mengangkat bahu.

Mereka bertiga tersenyum. Mengiyakan. 

"Rasanya tuh masih berat banget..." kata Tere tiba-tiba. "Baru 2 minggu, udah putus. Bayangin..."

"Lo mending, Ter, 2 minggu. Gue 2 tahun, putus gitu aja karena masalah sepele..." timpal Gita.

Saat itu aku tengah membaca novelku. Dengan tidak mengalihkan mataku dari novel tersebut, aku menimpali mereka berdua, "Tapi paling nggak, kalian nggak putus pas mau ultah kan?"

Seketika keduanya diam. Aku tersenyum samar. Merasa menang. Tuh, kan, aku yang paling ngenes nasibnya.. batinku, bangga. *eh

Selesai buka puasa dengan mereka, aku langsung pulang ke kosanku. Saat itu sudah pukul tujuh malam. Tante, pemilik kos, langsung menyambut aku dengan ucapan selamat ulang tahun, begitupun om. Setelah itu, mereka memberikan hadiah yang dititipkan kakakku. Hhhh, aku hampir menangis. Aku suka hadiahnya. Sebuah tas.

Keesokan harinya, Gono, temanku di kelas sebelah, main ke kelasku.

"Mandaaaaa...." sapanya sambil berjalan ke arahku.

"Oy, Gono!"

"Happy birthday..." katanya sambil mengulurkan tangan. Aku menjabat tangannya yang dingin dan jauh lebih besar dari tanganku.

"Ah, makasih Gono.."
Ternyata, masih ada ucapan juga meskipun sudah lewat harinya.

Lalu, saat kuliah dimulai, dosenku menjelaskan mengenai kalimat efektif.

"Kucing menangis. Secara ejaan dia benar.. Tapi apa dia adalah kalimat?" tanyanya.

"Bukaaaan" jawab kami malas.

"Iya. Secara logika, mana mungkin kucing menangis." kata dosenku lagi.

"Tapi kan kucing punya hati, Bu...." kata Tere, lirih.

"Tapi kan kucingnya baru putus, Bu..." sambungku yang langsung diikuti tatapan mata plis-deh-nda-jangan-bikin-galau oleh ketiga sahabatku.

Nah, sore harinya, ada acara buka bersama dengan keluarga besar kosanku hihi. Ada sebelas orang. Dan, ya ampun... Masih ada kejutan ternyata. Saat perjalanan pulang, beberapa kakak itu memberi aku ucapan lagi. Dan... 2 dari mereka memberiku tarian khusus. Bisa bayangkan rasanya meliat orang menari untukmu di trotoar yang ramai orang berlalu-lalang? Rasanya, lebih dari bahagia. Kami tertawa sepanjang jalan.
Sesungguhnya rasa bahagia itu sudah kita miliki. Tersimpan dalam hati kita. Pilihannya adalah mau atau tidak kita memakainya.

Untuk semua orang yang menyayangiku, teyimakasih :) Aku juga sayang kalian. Untuk yang belum mau menyayangiku, bolehkah aku tetap menyayangi kalian? Ini ulang tahun terbaik :) Alhamdulillah. Mana pantas merasa paling malang kalau sudah diberi kebahagiaan sebanyak ini!

Aku Amanda. Perempuan. Single. Delapan belas tahun.

31 July 2011

Bagaimana Tarawihmu Malam Ini?


Tarawihku malam ini sangat tidak patut dicontoh. Tahu tidak, tadi sepanjang tarawih pikiranku jalan-jalan ke sana-sini. Dan, setelah puas jalan-jalan, aku tiba-tiba teringat dengan Ramadhan yang lalu.

Ramadhan yang kesekian, aku ingat sekali saat itu aku masih kurus dan pendek. Dengan kondisi seperti itu, aku selalu kalah kalau harus berdesakan saat meminta tanda tangan ustadz. Yah, kalian tahu, sedang libur Ramadhan pun sekolah memberikan buku kegiatan Ramadhan yang harus diisi dan ditandatangani pak ustadz. Pagi hari setelah sahur, aku harus berjalan jauh bersama teman-teman untuk mengikuti kuliah subuh di masjid yang letaknya jauh dari rumahku. Brrrr. Udara masih terasa sangat dingin.  Dan konyolnya niatku hanya mendapatkan tanda tangan saja. Tak begitu memikirkan materi kuliah subuhnya.

Ramadhan yang kesekian-sekian, aku ingat, masa itu aku semangat sekali solat tarawih. Bagaimana tidak, aku bisa bertemu Kelana, calon pacarku. Dia terlihat manis dengan baju kokonya, as always sih hehe. Kalian tahu, aku masih nakal sekali. Kelihatannya sih aku solat, tapi.... Mataku terus tertuju pada Kelana, memperhatikan setiap gerak tubuhnya hihi. Setelah solat tarawih, Kelana pasti menyapaku, kadang dia yang memintakan tanda tangan pak ustadz, kalau aku yang minta, pasti lama, katanya. Yayayaya, aku lebih memilih menunggu sampai sepi sih daripada berdesakan.

Lucu rasanya mengingat semua itu. Oya, Ramadhan tahun lalu, hari pertama puasa jatuh di tanggal yang sama dengan ulang tahunku. Aku ingat sekali ucapan yang kudapat bertumpuk antara selamat puasa dan selamat ulang tahun hehe. Senang sekali rasanya. Tahun ini, meskipun Ramadhan mendahului ulang tahunku, tapi tetap saja ada hal yang menyenangkan. Ya, karena kuliahku sedang libur, jadi aku bisa menghabiskan minggu pertamaku di rumah, bersama orang tuaku. Menyenangkan :)

Eniwei, ada yang masih ingat lagu ini?


Buffer aja dulu ;)
Nah, waktu aku kecil, aku suka nyanyiin lagu itu. Dan sekarang, pas denger lagu itu, jadi kebayang lagi deh. Hmm, selain bau parfum, lagu juga selalu sukses memutar kembali kenangan masa lalu, yaa? Oke, sudah malam, waktunya tidur. Semoga nggak ada yang kesiangan sahur, yaa :)

P.S.: Selama Ramadhan minimarket dekat rumahku buka 24 jam. Aku bisa jajan tengah malem deh. Hmm, mereka aja nambahin jam kerja, kita jangan mau kalah, yaa. Yuk, tambahin jam ibadahnya selama Ramadhan! Happy fasting :)

24 July 2011

Yang Pergi Pukul Tujuh Pagi


"Nduk, bangun. Bu haji udah nggak ada.. Cepet bangun kalau mau ikut ngelayat.."

Aku membuka mataku mendengar suara yang samar-samar itu. Kemudian, menuruni anak tangga satu persatu. Baru tiga langkah, mataku menangkap sorot mata ibu di bawah. Ibu pasti habis menangis. Jadi yang aku dengar tadi.....

Bu haji. Begitu orang biasa memanggilnya. Sebenarnya, dia adalah tetanggaku. Juga rekan kerja Bapak, hampir 5 tahun kalau tidak salah. Kedekatan bapak dengan beliau sudah seperti anak dengan ibunya, tentu sudah barang pasti aku dan ibu pun dekat dengan beliau. Yah, sudah seperti nenek sendiri bagiku. Bapak bilang, semalam bapak bermimpi tentang beliau, nenekku. Di mimpi itu, nenek seperti biasa, menemui bapak sambil tersenyum, bahagia sekali sepertinya. Bapak bilang, nenek juga mengatakan sesuatu, tapi sayang, tak terekam oleh ingatan bapak. Mungkin nenek pamit, yaa...

Mendengar cerita bapak, aku tenang. Nenek bahagia, persis seperti raut yang aku dapati tadi, saat membacakan yasin untuk nenek. Cantik, sungguh. Tidak ada kesan menyeramkan seperti yang aku bayangkan. Aku tak bisa menahan air mataku. Mana nenek yang biasa menyapaku? Kenapa nenek diam saja?  Aku mengamati benar-benar. Berharap masih ada tarikan dan hembusan napas, masih berpikir nenek hanya tertidur. Tapi, tidak. Tak ada lagi napas. Aku tak tahu bagaimana caranya Tuhan mengambil napas itu. Aku tidak tahu di mana nenek sekarang. Dan hal itu membuatku lagi-lagi basah air mata. Bacaan yasinku terhenti sesaat karena penglihatanku dikaburkan air yang menggenang di mataku. Kenapa aku masih nangis kayak gini? Rasanya curang, ya... Nenek bisa liat aku terus, tapi aku nggak bisa liat nenek lagi :'(

Hhhh. Aku bakal kangen. Tidak ada lagi orang yang datang ke rumah hanya untuk menanyakan kapan aku pulang, setiap hari, setiap pagi. Tidak ada lagi yang nasehatnya selalu sukses membuatku menangis, "Belajar yang benar. Kasihan bapak ibumu itu, mereka kerja udah nggak peduli capek, nggak peduli sakit. Di Jakarta kalau main hati-hati. Temenan hati-hati. Jaga diri yang bener, yaa."

Aku bersyukur bisa melihat nenek untuk terakhir kalinya. Jujur, baru itu aku duduk di samping orang yang sudah tidak ada, hanya tertinggal raga yang memucat. Rasanya... Aku takut. Aku takut kalau nanti semua orang yang aku sayang juga pergi di saat aku belum siap. Aku tidak mau sendirian. Meskipun, aku tahu, aku tidak akan pernah siap. Dan, tak ada orang yang akan siap sendirian.

Nek, baik-baik, ya. Uh, aku nggak bisa nakal lagi, nih, nenek pasti lihatin aku terus. Tapi nggak papa, aku suka. Aku mau nenek terus melihat aku, melihat perjuanganku, sampai aku berhasil. Kecup sayang penuh doa. Aku sayang nenek.

Mohon doanya, ya, Pembaca Instan. Buat menemani nenek di sana :')

20 July 2011

Nostalgia Masa Muda


Duh, judulnya kurang oke, ya? Hihi posting kali ini aku mau pamer foto-foto masa muda. Tumben? Iya, ini dalam rangka ikutan giveaway. Habis hadiahnya novel. Mana bisa nolak. Oya, terima kasih buat Bapak dan Ibu, foto-foto yang kalian ambil saat aku kecil sampai sekarang masih kerasa manfaatnya, loh! Terima kasih juga buat Mbak Fanny, tuan rumah giveaway ini. Mau ikut? Bingung gimana caranya? Yuk, langsung klik di sini. Oke, ini dia foto-fotonya, *pasang lagu Terbaik Bagimu*
Foto pertama,
Teringat masa kecilku 
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung

Foto kedua,
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
Foto ketiga,
Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Foto keempat,
Yang mungkin kulakukan dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak
Foto kelima,
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Foto keenam,
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu
Foto ketujuh,
Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Kurindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati


Wah, jadi terputar lagi nih beberapa memori masa lalu. Gimana? Cantik, kan? Hihi.. Tapi seperti orang bijak bilang, "Kecantikan itu tidak bertahan lama" huhu sedih, yaa? Masak baru tujuh belas tahun, cantiknya sukses memudar? Eh, tapi kalau urusan hati, pengecualian. Makin tua, makin cantik kok, amin hihi.

Hmm, di masa itu, mungkin bukan aku belum punya masalah, yaa, tapi orang tuaku masih selalu menyelesaikan masalah-masalahku. Kenapa? Karena mereka tidak mau melihat aku menangis karena masalahku itu. Nah, bedanya, kalau sekarang, aku bahkan tidak mau mereka tahu aku menangis karena masalahku. Rasanya, seperti akan menjadi beban untuk mereka. Kadang, aku menceritakan masalah-masalahku tetap dengan ceria, dengan bersemangat, tidak mau mereka berpikir aku keberatan menghadapinya. Tuh, aku anak baik, ya? Hehe nggak boleh protes, loh. Semoga pesona foto-foto ini bisa membuat Mbak Fanny terpikat deh ;) Go Manda Go Manda Gooooo.

22 June 2011

Full of Happiness


Hello :) Maaf sekali, ya, kawan, akhir-akhir ini blogku jarang banget punya tulisan yang panjang-panjang. Kenapa? Ya, seperti yang sudah tergambar di beberapa postinganku sebelum ini, aku sedang memiliki beberapa beban pikiran haha keliatannya berlebihan, ya? Tapi nggak kok, aku serius.

Hari ini aku seneng banget. Sore-sore, capek-capek baru pulang, aku bela-belain langsung buka blog, eh cboxku penuh pujian gitu hahahaa yampun, rasanya capek aku tuh langsung ilang hoho nasib deh terlahir gila pujian -.-" Gimana yaa hmm speechless, ya gitu deh rasanya puas banget rasanya kayak nggak sia-sia ngutek-ngutek html segala macem sampe mata perih haha tuh kan aku mulai lebay. Eh tapi nggak cuma hal itu aja yang bikin aku seneng, masih ada satu lagi *kayanya full of happiness nih hari ini* alhamdulillah hehe. Gini loh, seharian tadi aku sibuk ngurusin daftar ulang ke kampus. Nah, sudah semester tiga sekarang haha *nggak disebut maba lagi* lega banget deh rasanya. Selama ini nggak tahu kenapa aku kurang suka kalau dipanggil maba, ya ampun aku punya nama kan kan kaaaaaaan? Kalau nggak tahu nama aku, kenalan dulu bisa, kan? Fufufuffuf. Tapi yaudahlah, masa lalu hehe. Rasanya plong banget pas ketemu temen-temenku lagi. Beban kayak hilang sementara waktu.

Btw, beberapa hari yang lalu blog ini sempet dapet award dari Bang Aul, haha award pertamaku, makasih makasih, nah ini dia awardnya:
Image and video hosting by TinyPic
Keren, ya? Itu yang gambar rumah kalo nggak salah sih sama kaya header blognya Bang Aul loh. Nah, kan jadi tambah keren. Jadi tambah kagum. Haduuuuh.
Katanya, award ini harus dibagi-bagi lagi ke lima orang tetangga. Aku sempet bingung sih, soalnya beberapa tetangga aku juga tetanggaan sama Bang Aul, otomatis mereka udah dapet dong. Hmm, semoga yang aku cantumin di bawah ini belum, yaa:
1. Kak Glo
2. Fiction's World
3. OPI (seperti ada keharusan menggunakan huruf besar bila menyangkut nama yang satu ini -.-")
4. A.D.I.N.A 
5. Annesya
Terima kasih atas komentar, sapaan, dan kunjungannya :)

Oya, hampir lupa. Nggak cuma itu, ada satu award lagi dari Bang Aul karena aku berhasil menjalankan misi *halah* maksudnya misi buat bikin postingan tentang film yang disukai itu loooh. Nah ini dia awardnya,
Image and video hosting by TinyPic
Unyu banget kan? Aaaaah aku suka :)

Semoga kedepannya bertambah banyak pihak-pihak yang dengan sukarela mau membagi awardnya buat aku haha parah deh jadi mellow gini habis ngeliat awardnya Bang Aul yang udah segudang hm *envy envy* SEKALI LAGI SELAMAT, YA, BANG :) *kapan-kapan giveaway doooongs bang* http://www.emocutez.com

15 June 2011

Joget Loncat Guling

Aaaaaaah. Speechless. Saat aku nulis ini, demi apapun kalian harus percaya aku masih senyum senyum sambil keringetan. Masih nggak nyangka bakal dapet rezeki tengah malem gini.
Here the story goes, 
Mbak Vincensia, penulis idolaku, ngadain lomba singkat gitu di facebook. Kenapa disebut singkat? Karena pemenang lomba dipilih hari itu juga, waktu lomba cuma 2 jam doang kurang lebih. Nah, berhubung agan kaskus bilang no pict=hoax, ini screenshootnya.
Sebenernya agak terlalu sederhana sih kalau dibilang lomba, pokoknya Mbak Vincen mau ngasih hadiah, itu intinya. Ucapan yang paling romantis cuma jembatannya aja. Pas baca status itu, aku langsung ngobrak-ngabrik folder, dari mulai hp sampai nb, dan yup, pilihanku jatuh kepada tiga ucapan ini:

Aku lupa baca dimana, cuma yang jelas ini nggak pure aku bikin, aku cuma edit sedikit biar  lebih jeger dibacanya.

Ini aku yang bikin. Ada di salah satu posting aku di blog ini. Lagi-lagi aku edit dikit, biar nggak kepanjangan.

Dari novel Perahu Kertas, lupa halaman berapa.
Sambil nunggu pengumuman, aku sempet ngobrol sama Mbak Vincen yang ternyata ramah buanget ini. Agak canggung, sih. Gimana nggak canggung, udah beberapa bulan aku kagum sama khasnya tulisan Mbak Vincen. Karyanya Mbak Vincen pertama kali diperkenalkan oleh dosenku tercinta, Bapak Nestor Rico Tambunan. Di salah satu kesempatan, dosenku ini menjadikan bab 1 dari novel Mbak Vincen sebagai bahan diskusi kelas kami. Katanya, sebagai mahasiswa, kami harus bisa menilai sebuah karya. Jangan hanya membaca lalu saat disuruh komentar hanya bisa "Bagus kok." "Bagusnya gimana?" "Ya... Gitu deh." Pak nestor paling benci yang seperti itu. 
Nah, semenjak baca bab 1 itu aku jadi stalker. Aku cari nama Vincensia Naibaho di facebook. Aku add facebooknya sambil dag dig dug takut di ignore. Habis itu, aku searching di google, pengen tahu tanggapan orang lain tentang karyanya, dan as predicted, POSITIF semua. Aku juga mulai nyari-nyari novelnya dia di toko buku, tapi nggak ketemu. Temen-temenku juga nyari (bukan buat aku, MEREKA NGGAK AKAN SEBAIK ITU!) tapi nggak ketemu juga. Karena udah hopeless, akhirnya aku cari jalan lain *tssaaah aku pilih toko buku online, eh beneran ternyata lebih gampang ketemu. Pas aku udah mau beli nih, ternyata nggak segampang waktu pesen buku pre-order dulu, ini agak ribet, ngisi data segala macem, dan aku terlalu males untuk itu. Yah, aku udah usaha deh minimal, kalau akhirnya nggak dapet ya aku harus bisa melepaskan dong, nunggu sampai ada temenku yang punya dan dengan biadabnya (as always) pamerin itu ke aku, terus dengan sedikit merajuk berkedip dan mengancam, aku bakal pinjem.
Tapi *jeng jeng jeng siapa sangka, TERNYATA ada juga jalan lain. Jalan dari Allah yang luar biasa manis (secara jadi aku yang bisa pamer sama mereka HAHAHA) aku dapet novel itu. Cinta Yang Tak Pernah Selesai. Gratis. Nggak pake ngisi data belibet. Nggak pake ongkos kirim. How lucky. Alhamdulillah. Aku langsung sumringah guling guling pas baca ini,

Tuh, kan. Saat kita memiliki keinginan yang besar, semesta akan berkonspirasi untuk mewujudkannya Æª(`˘Ð·˘)ʃ Eh, bodohnya, pas ngetik alamat tuh aku salah salah terus, saking gugup seneng nggak nyangka. Aku pasti susah tidur deh habis ini. Biasalah, efek terlalu bahagia. Karena lomba ini, aku yang tadinya cuma berani nge-add dan nge-like setiap postingannya Mbak Vincen, akhirnya bisa ngobrol sama Mbak Vincen, inbox-an pula. Aaaaaaaah. Cepatlah datang Pak Pos. Jangan nyasar yayaya?


*Postingan paling berantakan yang ditulis dengan hati paling berbunga-bunga.



6 June 2011

Flashback

Okay. Baru aja ngeh kalo ternyata user account aku belom ganti gambar dari jamannya punya Biyan (nama NBku haha). Jadi berasa lagi jaman-jamannya SMA karena liat foto itu.Tapi, aneh deh. Kok bisa ya aku nggak nyadarin itu selama ini? Btw, itu adalah foto aku sama mate aku, Alfi. Dia yang ngasih foto itu pas aku sama dia mau berangkat les. Dia jemput ke rumah abis magrib dan aku sama dia ujan-ujanan selama perjalanan. Motor malah sengaja jalan pelan, nggak ada alesan lain, aku sama dia emang suka hujan. Kebetulan waktu itu juga cuma gerimis, jenis hujan yang kami suka. Sambil ngobrol dia nyuruh aku ngaktifin bluetooth dan yup foto itu nyampe ke hpku.
Ah, jadi kangen gini.

29 May 2011

Dear Diary



Tadi siang, aku iseng-iseng liat lemari bukuku yang semenjak aku ngekos rada nggak keurus. Sebenernya nggak murni iseng sih. Jadi, awalnya itu karena temen-temenku minta bawain novel, yah mumpung lagi di rumah, aku cari-cari deh tuh yang nggak gitu tebel, biar nggak berat bawanya. Terus, secara nggak sengaja, aku malah nemuin tas warna hijau lumut yang isinya tuh diary, kertas-kertas, bungkus cokelat, foto, dan bla bla bla banyak banget deh. Aku jadi agak flashback gara-gara barang-barang itu yang padahal udah sengaja aku umpetin satu tahun lalu. Hmm, sebenernya aku sebatas malu dan bingung aja sih mau naro semua itu dimana. Nggak enak aja kalo ketauan orang. Paling nggak, barang-barang itu tuh saksi bisu beberapa kejadian penting di hidup aku. Dan soal diary, setelah aku baca-baca tadi, diary itu udah mulai aku tulis dari tahun 2004, haha udah lama banget. Aku sampe lupa kalo aku dulu sebegitu rajinnya menuliskan segala hal yang kadang nggak begitu penting. Diaryku sampe ada enam, mana tebel-tebel semua lagi. Yang lebih nggak nyangka lagi adalah aku nulis disitu kayanya beda banget sama aku yang sekarang. Oke, melankolis sih masih, tapi ya ampun, aku yang di diary itu tuh kaya apa yaaa... Hmm, naif. Yayaya, sebut aja naif. Satu contoh nih, yaaaa. Aku bilang kalau aku takut banget temen aku marah karena aku akrab sama orang yang dia suka, padahal tuh dia nggak harus marah karena aku nggak ada perasaan apa-apa sama orang itu. Guess what? Di lembar berikutnya aku bilang kalau aku patah hati karena temenku akhirnya jadian sama orang yang katanya sih "aku nggak suka". Omaygad, Manda. Hahaha sumpah nggak nyangka deh. Terus, hal lainnya adalah sifat aku disitu kayanya lemah banget, yah masih suka kelewat make perasaan. Mungkin masih baik hati, lugu, pendiam dan aaaaaaaaah entah dimana sifat sifat itu sekarang.

Dipikir-pikir sih emang agak aneh. Aku yang sekarang itu cenderung terlalu kuat. Oke, mungkin hati emang masih sama, tapi menyikapi masalah hati itu yang udah beda. Kadang-kadang aku nyesel juga, citra aku yang selalu nggak apa-apa, yang meskipun nangis tetep bisa becanda, yang nggak suka ngebesarin masalah, ah, hal itu bikin orang-orang agak kurang mencemaskan aku. Meskipun, yaaa gini deh, Superman sekalipun masih butuh bantuan kan? Sama, aku juga. Aku mandiri, aku tegar, aku nggak pernah meledak-ledak, aku bisa nguasain diri aku, aku bisa ngontrol bicaraku, segalanya nggak berarti aku bisa ditinggal sendiri tanpa harus dikhawatirkan, kan? Ya, sebenernya aku emang nggak pernah sendirian, saat seseorang pergi, selalu ada orang lain yang siap nemenin aku. Tapi, maksud aku tuh lebih ke soal hati. Membaca hati, itu yang sulit. Intinya, nggak selamanya aku siap untuk selalu nggak kenapa-kenapa. Aku menyesalkan saat dimana orang lebih memilih menyuruh orang lain bersandar, bukan aku,  karena dia melihat aku yang saat itu ada di sampingnya seperti masih mampu berdiri. Aku menyesalkan karena dengan aku yang selalu bisa bertahan ini malah membuat orang lain menuntutku bertahan lebih, lebih, dan selalu lebih dari sebelumnya. Aku menyesalkan karena aku tak mau merepotkan orang lain, orang itu malah memilih untuk bersama yang lain karena aku dianggap tidak membutuhkannya saat itu. Sungguh, saat aku tidak membutuhkan bantuan, apa salahnya bila aku tetap ditemani? Simpelnya, aku mau seseorang berusaha membuatku tertawa padahal dia tahu saat itu pun aku sedang tertawa. Yah, oke, itu rumit, memang, bukan simpel. Uh.

Balik lagi ke diary, aku jadi pengen nulis diary lagi, setiap hari. Karena aku sadar betul, tulisan-tulisan itu membantuku membayangkan lagi peristiwa yang pernah terjadi, betapapun lamanya.
Yaudah deh, segitu aja. Semoga niat nulis diary ini lama nempelnya. Amin.
Aku harus balik ke Depok lagi besok. Hhhh. Singkat banget, yaaa.
Sampai jumpa lagi ;)

23 May 2011

Sekilas Saja

Alhamdulillah, ujian akhir semesterku udah selesai. Yeay :))
Rasanya lega banget. Tadi beberapa nilai udah keluar, yah semoga aja cukup buat ngeganti tabungan rindu orang tuaku di rumah, hehe. Tadi juga sempet telpon ibu sama bapak, eh, aku deng yang ditelpon. Seneng benget bisa denger suara mereka. Pengen cepet pulang rasanya, pengen liat senyum mereka. Nggak cuma itu, bapak juga udah ngejanjiin jalan seharian sama aku, ibu juga, haha asyiiiiiik. Ayo pulang.. Pulang.
Oya, hari ini rasa-rasanya emang penuh berkah dan keberuntungan. Yah, meskipun ada insiden salah nama yang bikin heboh twitterku, sih. Hm, tapi yaudahlah yaaaaa. Pokoknya hari ini seneng seneng seneng.
Sebenernya banyak banget yang mau aku ceritain, tapi kok tiba-tiba blank, ya? Kemungkinan karena terlalu bahagia, nih. Ntar deh yaaa kalau udah stabil lagi aku ceritain selengkapnya, kalau aku masih inget juga. Haha.
Dadadadaaaaaah. Cukup sekilas saja kali ini.

21 May 2011

A Crazy Little Thing Called Love

Image and video hosting by TinyPic

Can’t get enough of you, Mario Maurer.

19 May 2011

Garap Desain Grafis

YA ALLAH, capek banget. Jam segini aku baru pulang dari kosan temenku.
Makasih yaa Gita udah dibolehin ngacak-ngacak kosan, numpahin cat, segalanya yang terjadi hari ini deh pokoknya. Lagian kamu juga sih minta ngerjain tugasnya di kosan kamu. Aku sih seneng aja, kan kalo di kosan aku berarti aku tuh yang harus ngepel, beres-beres, nyuci kuas bla bla bla. Haha.
Pokoknya terima kasih, sekantong cinta deh buat kamu :))

16 May 2011

Dear My Roommate

Kak Stella, kadang aku masih bingung, ada yaa orang yang almost perfect kaya kakak. Nggak gombal deh, kakak adalah orang paling baik baik baik banget yang pernah aku kenal. Makasih ya kak buat semua pelukan yang sejujurnya malah bikin aku tambah nangis :')
♥ Cirippa sayang Bulgozo 
"Ayok tidur siang ;)"

10 May 2011

Pra-UAS

Satu minggu sebelum UAS kayaknya layak dapet predikat minggu sibuk. Gimana nggak, hampir semua mata kuliah ngasih tugas. Tragisnya, tugas-tugas itu kebanyakan tugas lapangan.Nyontek? haha jangan harap.
  • Tugas pertama, Bahasa Indonesia Pers 
          Pernah berendem di koran? Yup, sedikit cerita aja, aku ngelakuin itu beberapa hari yang lalu. Semua sebatas buat nyari yang namanya kesalahan ejaan di koran. Langkah  pertama, aku cari di koran KOMPAS. Pelajarannya adalah editor KOMPAS nyatanya sangat handal, tidak ada kesalahan yang aku temukan di sana, Kawan. Langkah kedua, aku cari di koran "LAMPU MATI". Nggak berapa lama kesalahan ejaaan yang aku temukan udah masuk ke angka tujuh. CERDAS.
  • Tugas kedua, Pernaskahan Pers
          Kami ditugaskan untuk mewawancarai narasumber tanpa bantuan koneksi dari dosen tersebut, yang nantinya hasil wawancara itu harus kami susun menjadi feature atau berita ringan. Topik yang aku ajukan adalah Karawang yang terancam kehilangan identitas. Lumbung Padi? Ah, barangkali lebih tepat Lumbung Bangunan. Tapi itu sebatas kesimpulan sementara saja. Aku harus turun ke lapangan untuk memastikan apakah benar lahan persawahan di Karawang itu semakin menurun jumlahnya, seperti apa yang tertangkap mata.
  • Tugas ketiga, Manajemen Pemasaran
          Aku dan enam orang temanku diberi tugas untuk melakukan kunjungan ke salah satu penerbit buku. Dalam hal ini, kelompok kami akhirnya memilih Gagas Media. Selain karena lokasinya yang berdekatan dengan kampus, kami juga berpendapat bahwa Gagas Media memang sedang mendulang sukses. Banyak buku-buku terbitannya yang bahkan baru dikabarkan akan terbit saja sudah ditunggu-tunggu. Barangkali hal ini dikarenakan promosi yang gencar dan tepat sasaran. Barangkali? Ya, untuk kepastian, kami harus bertanya langsung ke sana.
  • Tugas keempat, Fotografi
          Kami ditugaskan untuk memotret di sekitar lokasi Kota Tua. Siapa sangka perjalan menuju dan setelah Kota Tua, ada banyak hal yang... ehm, bisa dibilang memalukan.
  • Tugas kelima, Komputer Grafis
          Rasa-rasanya ini adalah tugas yang paling tidak menyita waktu, sementara ini. Hanya sebatas macromedia, photoshop dan adobe ilustrator saja kok.
  • Tugas keenam, Desain Grafis
          Siapapun orangnya yang menyebut tugas ini enteng dan mengatakan itu sambil menjentikkan jari, akan kulempar pakai sepatu. Tugas desain grafis ini seringkali menguras habis waktuku, juga teman-teman yang lain agaknya. Selain karena ini-itu yang harus dibeli, dikerjakan manual dengan tangan, tugas ini juga tidak jarang membuat kami kebingungan. Jangankan mengerjakan, hal yang dimaksud saja kami tidak paham. Dan kali ini, kami ditugaskan untuk membuat newsletter. Haha ada yang berpikir itu mudah? Kalau begitu, aku tegaskan, KAMI HARUS MEMBUATNYA MANUAL. BUKAN KOMPUTER YANG IKUT CAMPUR.
  • Tugas ketujuh, PERNASKAHAN BUKU
          Membuat cerpen, lagi. Kali ini temanya jatuh cinta.

Yeah. Bukan sebatas pencitraan diri bila aku bilang aku sibuk, bukan?

19 April 2011

Memburu Berita #Koinsastra




Rabu (13/4) petang, aku dan teman-teman dari publishing menghadiri acara konser #koinsastra yang digagas oleh pengguna jejaring sosial facebook dan twitter sebagai ajang penggalangan dana untuk membantu Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang terancam tutup. Bertempat di halaman Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan Nomor 17, acara tersebut dimeriahkan oleh lebih dari 20 seniman dan artis. Kami sempat kecewa ketika melihat kursi penonton telah terisi penuh, meski sebenarnya kedatangan kami adalah untuk memburu berita.

Biar aku ceritakan, Kawan. Ternyata menjadi seorang wartawan itu tidaklah mudah. Dan yang aku pelajari dari peristiwa petang itu, sebagai wartawan haruslah kita ini mengetahui lebih dahulu latar belakang narasumber, lebih penting dari itu jangan lupa membawa air minum. Jangan anggap ini guyonan. Aku serius. Aku mengalami sendiri bagaimana rasanya kesuitan bernapas dengan tenggorokan yang tercekat dan tidak bisa berbuat apa-apa. Saat itu, aku memang membawa air minum. Tapi aku meninggalkannya di kursi penonton bersama barang bawaan lainnya, sedang aku sibuk memburu berita. Tragisnya, bukan hanya aku, pemburu yang lain, yang kelihatannya sudah senior, menghalangi jalanku. Aku tidak bisa beranjak dari tempatku berdiri saat itu. Nasib. Aku mengirim sms pada temanku yang duduk di kursi penonton, "Minum. Minum." tulisku. Setelah beberapa menit dia menjawab. "Mesti anter ke mana? Posisi kamu aja aku nggak tau!". Wah, matilah kita semua. Harapanku pupus sudah. Air mataku berlinang. Burung-burung berkicau *tsssah. Okay, back to normal, akhirnya badanku yang mungil ini berjuang melawan penindasan badan-badan kekar bau keringat di sekelilingku. Dan tadaaaaa, aku berhasil sampai ke telaga itu (baca, kursi penonton tempat singgah Si Air Minum). Aku selamat, Kawan!

Oya salah satu dari rangkaian acara tersebut adalah musikalisasi puisi oleh Reda Gaudiamo-Arie Malibu feat. Garin Nugroho. Puisi berjudul Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono ini berhasil memukau penonton. Sejujurnya, suasana di sana menjadi begitu hening. Setiap orang sibuk dengan romantika dalam angannya masing-masing, kurasa. Aku sendiri seketika memikirkan dia. Terasa rindu lagi akhirnya. Agak nelangsa juga sih karena aku membayangkan suatu saat bisa menikmati pementasan seperti itu bersama dia. Yup, kembali ke puisi, kalian bisa ikut menyimaknya di sini.


18 February 2011

15 February 2011

Berikutnya

Dua minggu ini rasanya berjalan begitu cepat, entah karena waktuku selalu habis oleh tugas atau malah karena aku mulai bisa menikmati kesibukan serta tugas-tugasku ini.

Besok aku harus rapat, harus melanjutkan poster yang belum selesai, harus mengerjakan makalah Hukum, dan menyelesaikan tugas Pers. Aku harap 12 jam cukup untuk menyelesaikan itu semua karena 12 jam sisanya harus aku gunakan untuk tugas berikutnya. Hhhh. Aku pasti bisa. Yeah.

12 February 2011

Sakit

Hari ini aku akui, aku kacau-balau. Sudah dari kemarin aku merasa tak sebaik biasanya, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, suatu kepastian yang masih bisa aku ingkari, sebelum hari ini tiba. Ya, kekacauan ini dimulai ketika aku bicara dengan salah seorang temanku, aku tidak bisa cerita banyak tentang pembicaraan kami, yang jelas, bagi temanku itu, hari ini "hal itu" sudah pasti terjadi, dan benar saja, aku tak bisa ingkar, ini sudah kepastian, Kawan.
Bah. Pantas saja aku jadi kacau-balau begini. Orang lain saja sudah begitu yakin ini akan terjadi, maka bisa disimpulkan orang lain saja merasa curiga kepadamu, bagaimana aku kalau begitu?
Bila sudah begini, aku akan menjadi orang penyakitan, yang tidak peduli diberi obat apa sakitnya tetap tak bisa hilang. Aku bisa jadi orang yang paling muram, paling galau, sebutan temanku, Ady.
Karena sudah terlanjur sakit, aku putuskan untuk sekalian saja mencari-cari hal yang bisa lebih menyakitiku. Habisi saja aku hari ini, barangkali begitu, kasarnya. Setelah hari ini berakhir, aku tidak mau lagi merasakan sakitku ini, aku tidak mau lagi terlibat apa-apa yang bisa membuatku sakit lagi. Cukup hari ini.
Tinggal beberapa menit lagi. Ya, hari ini akan berakhir. Rasa sakitku akan berakhir. Semoga.

Novel

Beberapa hari yang lalu, temen aku sempet bilang kalo novel yang dia baca itu pas banget sama yang dia alamin. Katanya lagi, tu novel bagus, aku wajib baca. Well, barusan aku baca, cuma sebagian karena aku baca via gugel buk, setelah aku baca, aku akuin itu novel bagus, tapi sayangnya konflik novel itu lebih tepat buat aku, dialog di novel itu lebih banyak menyindir aku.
Oke, aku harus pinjem novel itu secepatnya, aku mau baca semuanya.

10 February 2011

Kuning yang Jatuh Cinta


Aku baru saja selesai membaca postingan salah satu temanku di blognya. Ini sudah kali kedua, tapi ntah kenapa aku tak bosan membacanya, aku suka, suka sekali. Barangkali karena apa yang dia tulis itu benar berasal dari hatinya.

Membaca postingan tersebut mengingatkan aku pada kondisi blog ini, dulu, ketika bebanku masih sama beratnya seperti dia, temanku itu.

Aku menulis di sini karena aku tidak mungkin menyampaikan apa yang ada di hati dan pikiranku pada dia, lelaki hebat yang telah dipercayakan Tuhan padaku, setidaknya sampai saat ini. Lelaki itu pernah membuatku jatuh cinta, patah hati, berharap, sampai putus harapan setengah mati.

Aku ingin sekali menulis lagi, tentang dia, lelaki hebatku. Ya, aku suka ketika dia memuji tulisanku. Aku suka ketika dia bilang dia membaca tulisanku untuknya di sini.

Untuk Kuning, temanku, berangkat dari pengalaman, aku yakin, seseorang yang kamu tulis di sana akan juga menyukai tulisan buatanmu untuknya, tulisan yang lahir dari kejujuranmu. Semoga saja ada kesempatan kedua untuk kamu, untuk kalian berdua.